Image caption CEO Gazprom, Alexei Miller (kiri), adalah eksekutif dengan bayaran tertinggi di Rusia.
Setengah hari di Rusia
Rusia adalah satu lagi negara dengan kesenjangan tinggi. Menurut Forbes pada 2016, rata-rata penghasilan tahunan 25 CEO Rusia dengan bayaran tertinggi adalah sebesar $6,1 juta (Rp92 miliar).
Jika diukur dengan upah tahunan rata-rata Rusia sebesar $8.040 (Rp120 juta), mereka bisa menyamai pendapatan para pekerja hanya dalam setengah hari (0,46).
Di Brasil, dengan ekonomi besar yang sedang berkembang, CEO membawa pulang rata-rata $322.000 (Rp 5 miliar) setahun, sebagaimana diukur oleh Institute for Economic Research (Fipe).
Tetapi mereka hanya membutuhkan delapan hari untuk menyamai upah rata-rata tahunan nasional.
Di Meksiko, di mana CEO top menghasilkan rata-rata $1,29 juta (Rp 19 milar) per tahun, menurut situs SalaryExpert, mereka hanya butuh sekitar empat hari.
Apakah hal itu layak? Ada banyak pendapat berbeda.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di situs Harvard Business School awal tahun lalu, Ethan Rouen, seorang asisten profesor administrasi bisnis, mengingatkan bahwa kesenjangan itu perlu dijelaskan kepada publik dan pekerja.
"Ketika Anda mendengar jumlah yang dihasilkan seorang CEO, memang akan terasa keterlaluan. Orang-orang akan bereaksi dengan penuh emosi," kata Rouen.
"Jadi, masing-masing perusahaan lah yang harus mengungkapkan angka-angka ini untuk memberikan penjelasan dan alasan kesenjangan upah."
Dia juga mengutip survei tahun 2014 di mana orang-orang yang diwawancarai di beberapa negara menyatakan bahwa CEO tidak boleh mendapatkan lebih dari empat kali lipat penghasilan rata-rata pekerja.
Rouen, bagaimanapun, berpendapat perbedaan upah harus dilihat dalam konteks yang lebih luas daripada hanya membandingkan angka rata-rata.
Contoh utamanya adalah Apple, yang diperkirakan membayar CEO-nya, Tim Cook, lebih dari 250 kali gaji tahunan rata-rata pekerja di AS.
Perbandingannya bisa berbeda dengan perusahaan teknologi lain karena Apple mempekerjakan banyak orang di sektor ritel, dengan upah yang secara historis lebih rendah.
"Anda dapat mengatakan rasio pembayaran di Apple terlihat keterlaluan karena mungkin 200 banding 1... ini adalah angka yang akan dijadikan patokan oleh orang, tetapi pada saat yang sama, itu tidak terlalu adil," ia berpendapat.(rls BBCIndonesia).