DHAKA (Pesisirnews.com) - Situs maskapai penerbangan Biman Bangladesh Airlines mendapat serangan ransomware oleh hacker pada Jumat (24/3) lalu.
Saluran berita Bangladesh rtvonline, pada Minggu melaporkan, peretas disebutkan meminta Biman Bangladesh Airlines uang tebusan sebesar 5 juta dolar (Rp 75,8 miliar).
Peretas mengklaim telah mencuri lebih dari 100 GB informasi pribadi dan rahasia dari pesawat. Selain itu, mereka juga mengklaim mengunduh banyak data penting dari jaringan internal pesawat.
Baca Juga:
Peretas juga mengancam akan menerbitkan informasi yang mereka retas di blog-nya jika uang itu tidak dibayarkan sesuai permintaan.
Lima hari telah berlalu, meskipun peretas tidak mengungkapkan apapun, sejauh ini pihak berwenang belum dapat memulihkan server email pesawat tersebut.
Baca Juga:
Terkait adanya permintaan uang tebusan dari hacker kepada pihak maskapai, Menteri Negara Penerbangan dan Pariwisata Bangladesh, Mahbub Ali, menyatakan bahwa permintaan uang tebusan kepada Biman Bangladesh Airlines tidak benar.
“Kami tidak memiliki informasi untuk mengklaim adanya permintaan uang dari hacker,†kata Ali pada upacara penerbitan buku peringatan 'Mujib's Bangladesh' di sebuah hotel di Dhaka, Minggu (26/3).
Menurut Ali, peretas tidak dapat mengambil informasi apapun dari jaringan Biman Bangladesh Airlines.
“Mereka (hacker) tidak bisa menembus firewall. Serangan adalah kerugian tetapi peretas tidak bisa melakukan banyak kerusakan,†katanya.
Dia juga mengatakan bahwa penyelidikan atas insiden tersebut sedang berlangsung dan tindakan yang diperlukan telah diambil. Termasuk apakah ada kelalaian dalam insiden ini atau tidak.
[br]
Sementara itu, Shafiul Azim, direktur pelaksana Biman mengatakan, bahwa mereka telah menginformasikan hal tersebut kepada kementerian terkait ketika peretasan tersebut diketahui.
“Departemen keamanan digital telah diberitahu sesuai hukum, tim mereka telah berkunjung. Kami akan berkoordinasi dengan Kemenkominfo,†kata Azim.
Azim mengatakan, sejauh ini tidak ada masalah dalam operasi dan mereka masih bekerja sampai sekarang.
“Kami tidak mengalami kerusakan besar. Tindakan sedang berlangsung tentang bagaimana mencegah insiden semacam itu. Jika ada kelalaian maka akan dilakukan tindakan yang diperlukan, serta evaluasi terhadap keamanan jaringan,†jelasnya.
(PNC)