Rabu, 24 Juli 2024 WIB

Blogger Saudi yang Menolak ‘Bertobat’ kepada Tuhan Dibebaskan Setelah Satu Dekade di Penjara

- Sabtu, 12 Maret 2022 12:25 WIB
385 view
Blogger Saudi yang Menolak ‘Bertobat’ kepada Tuhan Dibebaskan Setelah Satu Dekade di Penjara
Raif Badawi yang menggalakkan debat agama dan politik sejak 2012 bersama ketiga anaknya. (BBC)

RIYADH, Pesisirnews.com - Blogger Saudi Raif Badawi yang dipenjara dan dijatuhi hukuman 1.000 cambukan karena "menghina Islam secara online" telah dibebaskan dari penjara.

"Raif menelepon saya. Dia bebas," kata istrinya Ensaf Haidar dari Kanada yang dikutip BBC dari kantor berita AFP, Sabtu (12/3).

Putra Badawi, Terad, juga mentweet: "Ayah saya bebas."

Baca Juga:

Sejak mencuatnya kasus Badawi, sang istri Ensaf Haidar diketahui melarikan diri ke Kanada, bersama tiga anak pasangan itu.

Pada 2012, Badawi ditangkap di kota Jeddah dan didakwa "menghina Islam melalui saluran elektronik" dan dituding "melampaui wilayah ketaatan".

Baca Juga:

Belakangan tahun itu, seorang hakim merekomendasikan agar dia juga diadili karena murtad, yang membawa Badawi pada hukuman mati, karena dia telah menolak untuk "bertobat kepada Tuhan".

Pada saat Badawi menerima 50 cambukan pertama dari 1000 kali cambukan yang harus dia terima, dunia internasional bereaksi keras.

Pemerintah Saudi pun mendapat kecaman dan protes global. Istrinya, Ensaf memimpin kampanye di seluruh dunia untuk kebebasannya.

Setelah itu, Badawi tidak mengalami perlakuan seperti itu lagi (dihukum cambuk) tetapi dia tetap di penjara.

Blogger Saudi ini kemudian menjadi lambang pelanggaran hak azasi manusia di negara itu.

Hukumannya berakhir pada 1 Maret. Namun, dia dikenai larangan bepergian selama 10 tahun dan tidak jelas apakah dia akan menghadapi pembatasan lain.

LSM Reporters Without Borders mengatakan akan bekerja untuk memastikan dia dapat bergabung dengan keluarganya di Kanada meskipun ada larangan.

Badawi, sekarang berusia 38 tahun. Pada tahun 2008 dia mendirikan Jaringan Liberal Saudi, sebuah forum yang berusaha untuk mendorong perdebatan tentang masalah agama dan politik di Arab Saudi.

[br]

Saudi dan kebebasan berpendapat

Di era Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz al-Saud yang adalah Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, sejumlah kebijakan terkait kebebasan mulai direformasi.

Bin Salman telah menggembar-gemborkan reformasi dalam upaya untuk mengubah citra rezimnya secara internasional dan di dalam Kerajaan.

Ini termasuk peraturan yang membatasi kekuasaan polisi agama, penghapusan larangan pengemudi wanita pada Juni 2018, dan melonggarkan sistem perwalian pria pada Agustus 2019.

Perkembangan budaya lainnya di bawah pemerintahannya termasuk konser publik pertama di Saudi oleh penyanyi wanita. Stadion olahraga Saudi pertama yang menerima wanita, peningkatan kehadiran wanita dalam angkatan kerja, dan membuka negara itu untuk turis internasional.

Namun Saudi belum memberikan ruang yang luas untuk perbedaan pendapat, terutama dalam hal kritik terhadap penguasa dan perbedaan yang menyangkut ajaran agama.

Untuk sementara belum ada komentar dan tanggapan resmi dari pihak berwenang Saudi tentang pembebasan Raif Badawi. (PNC)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Tanda Tanda Akhir Zaman, Mengungkap Fakta Tanda Tanda Kiamat di Arab Saudi & Israel
Ubah Citra Ultra-Konservatif, Arab Saudi akan Kirim Astronot Wanita Pertama ke Luar Angkasa
Wajib Diketahui Calon Pekerja Migran Indonesia: Arab Saudi Berlakukan Tes sebelum Berikan Visa
Banjir Bandang Terjang Wilayah Selatan Arab Saudi, 4 Orang Anak Jadi Korban
Sukses Pulihkan Hubungan Iran-Arab Saudi, China Imbangi Pengaruh AS dalam Kancah Global
China Sukses Jembatani Pemulihan Hubungan Bilateral antara Iran dan Arab Saudi
komentar
beritaTerbaru