Jumat, 01 Mei 2026 WIB

Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul di Awal Musim Hujan, Berani Coba?

- Sabtu, 24 November 2018 08:58 WIB
3.438 view
Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul di Awal Musim Hujan, Berani Coba?
Sindonews.com
Pesisirnews.com - Bukan hanya menyajikan keindahan objek wisata, Kabupaten Gunungkidul juga mempunyai banyak kuliner ekstrem. Selain belalang, jangkrik, kepompong dan kelelawar, ada satu lagi makanan ekstrem musiman yang layak dicoba, yakni puthul.

Puthul merupakan hewan sejenis kumbang yang muncul di awal musim penghujan, dan sudah menjadi makanan alternatif. Hewan yang biasa muncul di malam hari dan di dedaunan ini diburu warga untuk diolah menjadi makanan untuk lauk.

Meski dipandang menjijikkan oleh sebagian orang, namun rasa puthul ini tidak kalah dengan belalang. Bahkan, lebih empuk dan menjadi lebih nikmat jika disajikan dengan bumbu bacem goreng.

Suharni, salah satu warga di desa Ngawu, Kecamatan Playen menuturkan, dirinya setiap habis maghrib berusaha berburu puthul. Setiap satu kilogram, dia masak dan dijual dengan harga Rp60 ribu. "Mencarinya juga mudah. Hanya saja munculnya di awal musim hujan saja. Nanti hilang juga," tuturnya kepada wartawan, Jumat (23/11).

Dengan munculnya puthul, kata Suharni, dirinya bisa meraup keuntungan yang lumayan besar. "Saya pernah jual sampai dua kilogram. Kadang satu kilogram," ungkapnya.

Diakuinya, setiap kali berburu puthul, dirinya menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Hasil berburu puthul ini tidak hanya dijual oleh Suharni, namun juga untuk lauk yang disantap bersama tiga anak laki-lakinya.

Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul di Awal Musim Hujan
Satu lagi kuliner ekstrim dari Kabupaten Gunungkidul bernama puthul goreng yang bisa Anda coba. / Foto: KoranSINDO/Suharjono

Sementara itu, pengamat pertanian di Gunungkidul, Supriyadi menerangkan, puthul merupakan hama yang mengganggu tanaman pertanian. Hewan ini ketika masih menjadi larva sering menyerang akar tanaman padi yang disebut uret. Puthul memiliki nama latin Phyllophaga Hellery, merupakan famili Scarabaeidae, sub famili Melolonthinae dari Ordo Coleoptera.

"Puthul akan bertelur di dalam tanah. Lalu menetas menjadi uret bersamaan dengan perkembangan padi. Uret berkembang baik yaitu di tempat yang banyak mengandung bahan organik. Setelah itu, uret masuk ke dalam tanah, dan lamanya uret di dalam tanah sekitar 4-6 bulan. Lalu muncullah puthul," ucapnya.

Sumber Sindonews.comĀ 

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Hanya Rp5 Ribu Naik Pompong, Warga Seberang Tembilahan Sambut Hangat Wisata Kuliner Tembilahan
Kapolres Indragiri Hilir membagikan Makanan Kepada Tahanan di Rutan Polres Indragiri Hilir dalam rangka Jum’at Berkah*
Rambut Anda Rontok? Atasi dengan Mengonsumsi 8 Makanan Berikut Ini
Waspadai Penggunaan Pemanis Buatan dalam Makanan/Minuman Berbuka yang Anda Beli
4 Jenis Makanan yang Memengaruhi Kesehatan Sperma, Nomor 3 Paling Umum Dijumpai
Kekurangan Dana, PBB akan Pangkas Bantuan Makanan bagi  Pengungsi Rohingya
komentar
beritaTerbaru