Minggu, 26 April 2026 WIB

Istana Siak, Bukti Eksisnya Kesultanan Riau

- Selasa, 11 November 2014 23:25 WIB
2.095 view
Istana Siak, Bukti Eksisnya Kesultanan Riau
Istana Siak ini merupakan bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu Islam di Riau. Istana ini dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Syarif) pada tahun 1889, dengan nama Asserayah Hasyimiah (Foto-foto : Istimewa)
SIAK, PESISIRNEWS.com  – Dulu, Indonesia penuh dengan kerajaan dan kesultanan. Di Pulau Sumatera contohnya, mulai Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara ,Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan masih terdapat jejak kerajaan dan kesultanan dari masa lampau. Seperti di Provinsi Riau misalnya, ternyata ada petilasan kesultanan Siak Sri Indrapura yang jejaknya diwakili Istana Siak.

Istana yang terletak di Kabupaten Siak Sri Indrapura ini berjarak lebih kurang 125 kilometer dari Kota Pekanbaru, atau kurang lebih tiga hingga empat jam perjalanan darat. Bangunan Istana Siak berdiri di atas areal tanah seluas sekitar 28.030 meter persegi dan merupakan warisan istana dari Kesultanan Siak Sri Indrapura yang sampai hari ini masih berdiri kokoh dan menjadi tujuan wisata.

Istana Siak ini merupakan bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu Islam di Riau. Istana ini dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (Sultan Syarif) pada tahun 1889, dengan nama Asserayah Hasyimiah. Sebelum pembangunan istana dilakukan, Sultan Syarif kabarnya melakukan lawatan ke negeri Belanda dan Jerman sehingga pengalamannya selama berada di dua negara Eropa itu mempengaruhi corak arsitektur Istana Siak.

Selain Eropa, corak arsitektur Istana Siak juga menunjukkan gaya arsitektur Melayu dan Arab. Istana ini masih berdiri megah hingga saat ini setelah dilakukan beberapa kali renovasi. Pada pintu gerbang masuk, terdapat hiasan berupa sepasang burung elang yang dibuat memiliki sorot mata tajam, seolah-olah mengawasi semua orang yang akan masuk ke areal istana.

Istana Siak terdiri atas dua lantai dan pada setiap sudutnya terdapat pilar berbentuk bulat. Sedangkan pada bagian ujung puncak terdapat hiasan burung garuda. Sementara itu, semua pintu dan jendela berbentuk kubah dengan hiasan mozaik kaca. Lantai bawah terdiri dari enam ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu dan ruang sidang. Di dalamnya terdapat ruang besar utama yang terbagi atas ruang depan istana, ruang sisi kanan, ruang sisi kiri, dan ruang belakang. Sedangkan lantai atas terdiri dari sembilan ruangan yang berfungsi untuk tempat istirahat sultan, keluarga atau kerabat sultan dan para tamu kerajaan.


Di dalam istana juga masih terdapat berbagai koleksi bernilai sejarah tinggi di antaranya kursi singgasana sultan yang berlapis emas. Kemudian koleksi benda berharga bernilai tinggi berupa instrumen musik yang bernama komet yang dibuat oleh ahli akustik Jerman. Instrumen ini berupa piringan baja berlubang-lubang yang menghasilkan suara indah. Konon, alat musik ini di dunia hanya ada dua karena memang hanya dibuat dua buah saja.

Komet dulunya digunakan untuk menghibur Sultan saat makan dan menjamu tamu. Alat musik ini tidak menggunakan listrik, melainkan menggunakan tenaga kinetik yang berasal dari gulungan per. Untuk bisa mengeluarkan bunyi maka harus memutar engkolnya terlebih dahulu dengan tangan. Piringan baja yang berlubang-lubang berperan seperti piringan hitam yang menyimpan lagu yang akan dimainkan.

Suara alat musik ini mirip dengan suara piano. Untuk menjaga keawetan, alat musik ini hanya dioperasionalkan pada waktu-waktu tertentu saja. Untuk mengetahui siapa saja tokoh-tokoh Kerajaan Siak di masa lalu dapat kita lihat melalui foto-foto berukuran besar yang terletak di dalam Istana Siak. Terdapat juga sebuah cermin yang menjadi milik oleh para permaisuri Sultan yang kabarnya dapat membuat wajah semakin cerah dan awet muda bila sering bercermin di sana. Cermin ini dinamakan cermin Ratu Agung.

Dari sekian banyak koleksi bersejarah di Istana Siak, terdapat lemari besi berwarna hitam yang konon adalah milik sultan. Lemari besi ini tingginya kira-kira lebih dari satu meter dengan bentuk seperti brankas atau lemari besi. Sampai sekarang belum ada satupun orang yang bisa membuka lemari besi ini termasuk beberapa ahli kunci yang sudah pernah mencoba namun tidak berhasil. Tidak diketahui pasti apa isi dalam lemari besi ini. Karena masih menghormati privasi sultan, pihak penjaga istana enggan membuka paksa lemari ini untuk mengungkap misteri didalamnya.

Istana Siak bebas dikunjungi umum dan boleh memotret semua benda yang ada di dalamnya. Tidak jelas, apakah sekarang masih ada keturunan Sultan Syarif yang masih bermukim di Riau. Namun yang jelas, Istana Siak ini adalah bukti eksisnya Kesultanan Riau di masa lampau.[berbagai sumber]

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wujudkan Wisata Aman dan Nyaman: Program 'Lapor Aman Kota Tua' Resmi Disosialisasikan Pada Masyarakat
Dongkrak Wisatawan, Bupati dan Wabup Sampang Promosikan Wisata Mangrove Sreseh
Tim SAR Gabungan TNI AL Bantu Evakuasi Wisatawan Terseret Ombak
Festival Pacu Sampan Leper, Kearifan Lokal dan Potensi Pariwisata Kabupaten Inhil
Berkunjung ke Desa Dayun, Menparekraf Teringat sang Ayah yang Bekerja di Zamrud Blok CPP Siak
China Umumkan 801 Kasus Baru Covid-19, Puluhan Ribu Turis Terjebak Lockdown di Kota Wisata
komentar
beritaTerbaru