Kamis, 13 Juni 2024 WIB

Hukum Berkurban Bagi yang Mampu, Wajib Atau Sunnah?

Haikal - Jumat, 07 Juni 2024 13:49 WIB
238 view
Hukum Berkurban Bagi yang Mampu, Wajib Atau Sunnah?
(Pesisirnews.com)Perdebatan hukum berkurban bagi yang mampu terkadang masih saja terdengar. Hal ini wajar terjadi, sebab terdapat perbedaan pendapat para ulama mazhab perihal hukum berkurban. Menurut mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah, hukum berkurban merupakan sunnah. Namun, menurut Abu Hanifah, hukum berkurban bagi yang mampu adalah wajib. Jadi mana hukum yang benar ya? Simak ulasan berikut ini!

Makna Berkurban Sebagai Bentuk Rasa Syukur

Kurban berasal dari kata 'Qorroba-Yuqorribu-Qurbaanan', yang memiliki makna mendekatkan diri. Maksudnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan. Hal ini juga dijelaskan dalam Surat Al-Kautsar ayat 1-2 yang berbunyi, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah."

Baca Juga:

Dalam surat al-Kautsar, Allah memerintahkan manusia untuk shalat dan berkurban sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah. Dengan berkurban, kita dapat berbagi kebahagiaan lebih banyak. Sebab daging kurban tidak dinikmati sendiri, melainkan kepada seluruh umat muslim.

Untuk melaksanakan perintah kurban tidaklah murah. Seorang muslim perlu mengeluarkan sejumlah dana untuk membeli hewan kurban. Untuk pelaksanaannya pun membutuhkan banyak dana dan sumber daya manusia. Dibutuhkan kepanitiaan yang amanah untuk mengelola kurban.

Baca Juga:

Hukum Berkurban Bagi yang Mampu Menurut Ulama Mazhab

Menurut para ulama, hukum berkurban adalah Sunnah Muakkad, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan kepada seorang muslim yang memiliki kemampuan secara finansial. Namun, seperti apa seseorang dikatakan mampu?

1. Menurut Mazhab Maliki

Ulama Mazhab Maliki mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan mampu apabila memiliki harta kekayaan sebesar 30 dinar. Bila dikonversikan ke rupiah, nominal satu dinar setara dengan dua juta. Maka bila seseorang memiliki total kekayaan 60 juta rupiah, maka sangat dianjurkan baginya untuk menunaikan ibadah kurban.

2. Hukum Berkurban Bagi yang Mampu Menurut Mazhab Syafii

Berbeda dengan Mazhab Maliki, Mazhab Syafii mengukur bahwa seseorang dapat dikatakan mampu apabila memiliki uang yang cukup untuk membeli hewan kurban. Hal ini dengan catatan orang tersebut mampu memenuhi kewajiban untuk menafkahi keluarga beserta orang yang ditanggungnya selama hari-hari penyembelihan, yakni pada tanggal 10 sampai 12 Dzulhijjah.

Jika seseorang memiliki uang sebesar harga hewan kurban, namun keluarganya sendiri belum dinafkahi, maka tidak dianjurkan baginya untuk berkurban. Lebih baik memprioritaskan nafkah keluarganya lebih dulu.

3. Boleh Berutang, Menurut Mazhab Hambali

Menurut Mazhab Hambali, seorang muslim dianjurkan berkurban apabila dapat mengusahakan membeli hewan ternak dengan menggunakan uang sendiri ataupun berutang. Mazhab Hambali membolehkan seorang muslim berutang terlebih dahulu untuk membeli hewan kurban.

4. Mazhab Hanafi: Hukumnya Wajib bagi yang Mampu

Bila ketika ulama mazhab di atas menyatakan hukum berkurban bagi yang mampu sebagai sunnah muakkad, Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib dilaksanakan bagi yang mampu. Menurut Mazhab Hanafi, seseorang yang dikatakan mampu apabila memiliki harta lebih yang senilai dengan nishab zakat mal, yaitu 200 dirham. Telah melebihi kebutuhan pokok dan pihak yang wajib ditanggungnya.

Pendapat Abu Hanifah berdasarkan hadits berikut ini, "Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, makan jangan sekali-kali mendekat ke tempat sholat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Namun, Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, pada juz 3 halaman 597 mengatakan, "Para pakar hadits melemahkan hadits-haditsnya Hanafiyyah, atau diarahkan kepada pengukuhan atas kesunahan berkurban seperti masalah mandi Jumat dalam hadits Nabi; mandi Jumat wajib atas setiap orang baligh. Kesimpulan ini ditunjukkan oleh sebuah atsar bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berkurban karena khawatir manusia meyakininya sebagai hal yang wajib, sementara hukum adalah tidak adanya kewajiban."

Sejarah Nabi dan Sahabat dalam Melaksanakan Kurban

Dalam keadaan berada atau sedang mengalami kekurangan, Rasulullah selalu berkurban setiap tahun. Walau memiliki gaya hidup sederhana, Nabi Muhammad tidak absen berkurban. Baginya, kurban adalah ibadah yang diupayakan setiap tahun, bukan ibadah yang dilakukan sekali seumur hidup.

Hadits Ibnu Abbas, beliau mendengar Nabi bersabda, "Tiga hal yang wajib baiku, sunah bagi kalian yaitu shalat witir, kurban, dan shalat Dhuha." (HR Ahmad dan al-Hakim).

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan Nabi bersabda, "Aku diperintahkan berkurban, dan hal tersebut sunah bagi kalian." (HR al-Tirmidzi).

Rasulullah mewajibkan dirinya untuk berkurban, namun hukum berkurban bagi yang mampu tidak wajib, melainkan sunnah. Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang merupakan golongan mampu, tidak selalu berkurban setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kurban bagi umat muslim tidak wajib, namun Sunnah Muakkad. Ibadah yang sangat dianjurkan.

Kurban Merupakan Sunnah Muakkad, Sangat Dianjurkan
Kurban memiliki sejarah yang cukup mengharukan. Ketika Nabi Ibrahim yang telah menanti puluhan tahun untuk memiliki seorang anak, diuji oleh Allah untuk mengurbankan anaknya semata wayang yaitu Nabi Ismail. Bila hal tersebut terjadi pada diri kita, belum tentu kita bisa menghadapinya. Perasaan orang tua mana yang tidak sedih bila harus berpisah dengan anak yang dinanti dalam kurun waktu menahun.

Allah menguji ketaatan Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim didukung oleh anaknya untuk menjalankan perintah Allah. Kecintaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah melebihi kecintaan terhadap diri mereka sendiri. Pengorbanan tersebut Allah tebus dengan seekor domba, dan Nabi Ismail tetap hidup hingga akhir hayat.

Dari peristiwa kurban dapat kita contoh kesabaran dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Ibadah kurban sangat mulia, sebab selain mengenang peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim, kurban menjadi bentuk rasa syukur dan kesintaan kita kepada Allah.

Hukum berkurban bagi yang mampu adalah sunnah muakkad, atau ibadah yang sangat dianjurkan. Bila melaksanakannya akan mendapatkan balasan yang tidak sedikit dari Allah SWT. Pada hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dikatakan, "Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan."

"Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak nyang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah" (QS Al Hajj: 34)

Kurban bukanlah ibadah yang memiliki sifat dinikmati seorang diri. Meskipun hukum berkurban bagi yang mampu adalah sunnah muakkad, kurban memiliki sifat sosial yang sangat tinggi. Allah memerintahkan daging kurban untuk dibagikan secara merata kepada seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Orang kaya maupun miskin dapat menikmati daging kurban. Mempererat silaturahmi dan merayakan hari raya Idul Adha dengan suka cita.

"Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur." (Al-Hajj: 36).

Namun dalam distribusi pembagian daging kurban tidak sedikit pihak-pihak yang tidak memperoleh daging, utamanya kaum fakir dan miskin. Seringkali pembagian daging kurban hanya berputar di satu wilayah yang sama, tidak merata hingga daerah pelosok.

Oleh sebab itu, Dompet Dhuafa mengajak Sahabat untuk tebar hewan kurban hingga ke penjuru negeri. Sehingga, saudara seiman kita, utamanya para kaum dhuafa dapat merasakan nikmat dan suka cita daging kurban di Hari Raya Idul Adha. Klik link banner di bawah ini untuk menunaikan ibadah kurban.(dhuafa)

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Jatuh Dari Kapal, Ditemukan Meninggal Dunia
Ustadz Abdul Somad (UAS) - Hukum Kurban Untuk Orangtua yang Sudah Meninggal, Apakah Sah dan Diterima? Simak Penjelasan UAS.
Kapolres Inhil Jenguk Korban Penganiayaan
Ketua TP PKK Inhil Hj. Zulaikhah Lakukan Takziah Ke Kediaman Windyawati Arliansyah dan Korban Laka Laut SB Evelyn Calisca
Seorang Pemuda di Rohil Tewas Disambar Petir saat Main Handphone Sembari Dicas
Dua Waria di Rohil Ditangkap Polisi, Aksinya Terekam CCTV Saat Bobol Kios Buah
komentar
beritaTerbaru