JAKARTA - Menyandang status sebagai negara berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara, Indonesia jadi pasar empuk untuk perusahaan
startup global, tak terkecuali media sosial (medsos).
Sebenarnya,
sejak beberapa tahun belakangan, banyak medsos buatan lokal, namun
kemudian sulit berkembang dan jadi tuan di negeri sendiri, bahkan
kemudian ditutup. Beberapa
startup lokal yang bermain di sektor jejaring sosial seperti Koprol, Fupei, dan Mindtalk.
Direktur
Jakarta Founder Institute (JFI), Andy Zain, mengungkapkan persaingan di
pasar media sosial di Indonesia sangatlah ketat, apalagi saat ini sudah
banyak sekali medsos global yang sudah terlanjur digandrungi masyarat
Indonesia seperi Facebook, Twitter, dan sebagainya.
"
Startup chatting dan media sosial sulit, enggak gampang masuk. Contoh saja mau bikin MS Word, itu haruslah sebuah
tool yang bisa dipakai di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia, sama halnya dengan media sosial, di Indonesia juga tidak ada
barrier
(halangan) masuk pemain dari luar. Lawannya terlalu susah," ungkap Andy
ditemui di Menara Bank DBS Indonesia, Jakarta, Senin (13/3/2017).
Kondisi ini, kata dia, berbeda dengan di China. Di mana pemerintahnya memberikan proteksi sangat ketat pada
startup luar, sehingga jadi keuntungan besar untuk
startup lokal berkembang pesat seperti Weibo dan WeChat.
"Di China berbeda, chating dan media sosial lokal mereka karena diuntungkan dengan
barrier di sana. Ada
fire wall dan sebagainya, di sana ada
great wall barrier untuk masuk. Wajar mereka besar," ujar Andy.
sumber : detik.com