JAKARTA - Pengemudi (pengendara) ojek online sebuah pembacaan ikrar pemenangan untuk keutuhan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Mereka tak mempermasalahkan pernyataan yang dilontarkan Prabowo soal tukang ojek yang menjadi kontroversi.
"Nggak, nggak orang yang direndahkan. Orang yang membentuk, tepat dia merasakan perihnya anak-anak bangsa yang kondisinya seperti itu tidak bisa diberikan regulasi. Gitu lho. Jadi di mana letak melecehkannya? Nggak. Yang melecehkan itu siapa nggak tahu dan dia berasumsinya apa saya juga nggak paham, "kata Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Dirgantara dan Transportasi (SPDT) Rusli di gedung Dewan Harian Nasional 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/2018).

Baca Juga:
Rusli, yang juga pengemudi ojek online (ojol), mengklaim 75% pengemudi ojol se-Indonesia mendukung Prabowo-Sandi. Ia menegaskan akan terus memberikan semangat kepada rekannya yang lain untuk menentukan agar-agar tidak dimainkan oleh politik.
"Cuma memang ada teman-teman yang sifatnya masih geli dengan politik, ya nggak apa-apa, biarin aja. Tapi kita tetap harus berikan semangat kepada teman-teman yang lain kita harus berpolitik, kalau nggak berpolitik nanti akan dibuat, dipamerkan oleh politik .Daripada dimainkan oleh masyarakat mending kita berpolitik sekalian, "tegas Rusli.
Baca Juga:
Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga rencananya akan mengadakan pertemuan dengan para pengemudi ojek online pada Senin (26/11) mendatang. Meski demikian, Direktur Relawan, BPN Ferry Mursyidan Baldan menampik saat pertemuan tersebut dengan pilpres.
"Kalau menyebut dengan ojol tadi kita lihat apa yang terjadi dalam hari-hari ini kan sebetulnya kasihan. Soal-masalah dalam mereka menjalani profesi itu kan, ada keresahanlah," ujar Ferry dalam kesempatan yang sama.
"Jadi ini konteksnya tidak semata-mata dengan pilpres, jauh itu. Karena mereka butuhnya pandangan dan saran-saran kita, misalnya kita lihat aspek regulasinya, nanti kita sampaikan, kayak gitu-gitulah," imbuhnya.
Menurut Ferry, bertemu dengan para pengemudi online tidak akan menghasilkan kontrak politik. Pertemuan itu, disebut Ferry, hanya untuk berdialog dan mengawasi para pengemudi.
"Kita harus berjuang untuk demi pilpres, nggak. Ini kan kita yang harus dilalui pada akhir zaman. Justru kalau kita ada kontrak yang mereka butuhkan. Yang mereka tidak bisa, tapi bagaimana mereka bisa mendapat dukungan dengan problema yang mereka hadapi hari ini. Karena ini kan sumber nafkah mereka, mereka, "tegasnya.
Sebelumnya, kaum buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meresmikan rumah pemenangan untuk mendukung Prabowo-Sandiaga. Berbagai elemen pekerja dan hasil, termasuk para pengemudi ojek online.(Riaumandiri.co)