Minggu, 21 Juli 2024 WIB

Dari dalam Penjara Aktivis HAM Perempuan Iran Serukan Penggantian Rezim Ulama Iran

- Jumat, 03 Februari 2023 11:02 WIB
571 view
Dari dalam Penjara Aktivis HAM Perempuan Iran Serukan Penggantian Rezim Ulama Iran
Narges Mohammadi, aktivis HAM perempuan Iran. (Twitter)

DUBAI (Pesisirnews.com) - Seorang perempuan Iran bernama Narges Mohammadi yang merupakan aktivis hak asasi manusia (HAM) dan kini dipenjara atas upayanya melawan hukuman mati dan menegakkan HAM di Iran menyerukan dari dalam penjara digantinya rezim ulama yang berkuasa di Republik Islam Iran.

Narges Mohammadi sebagai juru bicara Pusat Pembela Hak Asasi Manusia di Iran menulis dalam sebuah pesan dari dalam penjara Evin ke sebuah Yayasan Kemanusiaan Olof Palme di Swedia, bahwa rakyat Iran menginginkan transisi dari Republik Islam Iran menuju ke sistem pemerintahan yang demokratis.

"Sistem saat ini di Iran telah membahayakan tidak hanya realisasi demokrasi dan hak asasi manusia di Iran, tetapi juga perdamaian, keamanan dan pembangunan di wilayah tersebut,” tulis Mohammadi dalam pesannya yang dikutip dari situs Al Arabiya Persia, yang berbasis di Dubai, Jumat.

Baca Juga:

"Aparat represif dari pemerintah tirani selama 44 tahun telah menghalangi jalan bagi mobilitas politik dan sosial apapun dengan menekan berbagai lawan dan pengunjuk rasa, lembaga sipil independen dan kebebasan berbicara dan pers, dan membuat pemilihan dan suara rakyat tidak berarti dalam periode yang berbeda. Dan faktanya, strategi efektif gerakan dan kegiatan rakyat telah terpinggirkan karena kurangnya akuntabilitas (pemerintah),” ungkapnya.

Pada akhirnya, Mohammadi menulis: "Dengan hati yang penuh cinta, harapan dan vitalitas, saya berjanji untuk tidak berhenti sampai terwujudnya perdamaian dan hak asasi manusia dan terwujudnya impian kebebasan dan kesetaraan di Iran dan dunia. Panjang umur kebebasan, kesetaraan sipil dan demokrasi."

Baca Juga:

Narges Mohammadi telah ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara berkali-kali karena aktivitas hak asasi manusianya. Dia ditangkap terakhir kali pada bulan April tahun lalu ketika pasukan keamanan menyerang rumah pribadinya dan dia dipindahkan ke penjara Evin.

Mohammadi telah dijatuhi hukuman total sepuluh tahun delapan bulan penjara dan 154 cambukan dalam dua kasus terpisah.

[br]

Sedangkan Yayasan Kemanusiaan Olof Palme, pada Januari 2023 memberikan penghargaan kepada Narges Mohammadi dan dua aktivis perempuan lainnya atas upaya menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Dua aktivis perempuan lain yang mendapat penghargaan dari Yayasan Kemanusiaan Olof Palme yakni Eren Keskin, seorang pengacara hak asasi manusia di Turki yang dijatuhi hukuman enam tahun penjara, dan Marta Chumalo, seorang psikolog dan aktivis HAM serta hak-hak perempuan dari Ukraina.

Sebagai informasi, Pusat Internasional Olof Palme adalah organisasi non-pemerintah Swedia yang bergerak di bidang kemanusiaan (HAM), demokrasi, perdamaian dan isu-isu internasional. Yayasan ini dinamai dengan nama mendiang Perdana Menteri Swedia Olof Palme.

Olof Joachim Palme adalah seorang politikus dan negarawan Swedia yang menjabat sebagai Perdana Menteri Swedia dari tahun 1969 hingga 1976 dan 1982 hingga 1986. Ia dibunuh pada tahun 1986.

Olof Palme Prize tahunan diberikan kepada orang-orang yang dipilih oleh dewan dana. Hadiah terdiri dari piagam penghargaan dan uang sebesar 100.000 dolar AS atau sekitar Rp 1,4 miliar. (PNC)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Di Indramayu Ratusan Anak Ajukan Nikah Dini, Rata Rata Anak Putus Sekolah, Karena Hamil Duluan!
Muhammadiya Buka Suara, Pindah Dana Besar Besaran Dari BSI
Hukum Berkurban Bagi yang Mampu, Wajib Atau Sunnah?
Perairan Indonesia Berpotensi Alami Gelombang Tinggi hingga 4 meter, Masyarakat Perlu Waspada
KPK Ungkap Siasat Bupati Meranti Isi ‘Kocek’ Pribadi dengan Uang Korupsi
Bupati Kepulauan Meranti Kena OTT KPK Terkait Dugaan Korupsi
komentar
beritaTerbaru