Senin, 20 April 2026 WIB

RS India Kewalahan Tangani Lonjakan Pasien Covid-19, Pasien Merasa 'Dibiarkan Mati’

- Rabu, 28 April 2021 08:18 WIB
743 view
RS India Kewalahan Tangani Lonjakan Pasien Covid-19, Pasien Merasa  'Dibiarkan Mati’
Ilustrasi: Pasien Covid-19 India meninggal dunia. (Tangkapan layar India Today)

NEW DELHI, Pesisirnews.com - Gelombang kedua pandemi Covid-19 yang melanda India membuat sejumlah korban tak mampu bertahan hidup.

Penderita Covid-19 India sebut diri mereka dibiarkan mati. Para keluarga korban Covid-19 di India marah besar terhadap pemerintah. Selain kondisi covid, keamanan India juga tidak tenang lagi.

Warga marah karena mengizinkan festival keagamaan besar dan kampanye politik yang berlangsung.

Baca Juga:

Ritual ziarah Kumbh Mela yang dilaksanakan di tepi sungai Gangga tiap 12 tahun menyatukan lebih dari 5 juta umat Hindu.

Melansir Kompas.com, Selasa (27/04/2021) hampir tak ada orang yang menggunakan masker ketika mengikuti ritual mandi tersebut.

Baca Juga:

Seorang warga, Sairi (41) bersama putranya, Veeir (9) terinfeksi Covid-19.

Dalam komentarnya kepada Mirror mereka tak mendapatkan bantuan meski mengalami masalah pernapasan parah karena polusi udara.

"Kami dibiarkan mati," ucap Sairi.

Sebelumnya, pasokan tabung oksigen yang sangat rendah di Ibu Kota India membuat beberapa rumah sakit harus menutup pintu masuk.

"Semua orang menyalahkan kampanye politik dan Kumbh Mela yang tak bertanggung jawab. Itu kriminal," terang seorang pengacara yang berbasis di New Delhi.

WHO menyebut situasi Covid-19 yang terjadi di India sangat memilukan

WHO dikabarkan akan mengirimkan 2.600 staf dan persedian tambahan untuk membantu India.

Sebelumnya, Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah Negara Uni Eropa dilaporkan siap membantu India untuk menangani virus corona yang tengah melanda.

Rumah sakit di India saat ini sudah penuh pasien positif virus corona (Covid-19). Namun dokter di New Delhi memperingatkan ada potensi lebih buruk lagi yang akan terjadi.

Sulit membayangkan betapa buruknya hal itu saat warga India mengemis di jalanan hanya untuk mencari udara.

Bahkan orang-orang pingsan dan sekarat di depan pintu rumah sakit. Tabung oksigen saat ini dapat diibaratkan seperti emas di India.

[br]

Dokter bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk pada dua minggu mendatang

Dikutip dari laman Sky News, Selasa (27/4/2021), pemerintah negara itu memang tengah sibuk meminta warganya agar tidak panik.

Selain itu, mitra internasional mereka juga sedang mengatur penerbangan untuk mengirimkan bantuan yang mengangkut pasokan oksigen.

Namun di sisi lain, para dokter di India mengatakan bahwa mereka bersiap untuk menghadapi peristiwa mengerikan pada dua minggu mendatang.

"Situasinya kritis sekarang, pandemi ini adalah yang terburuk yang pernah kami lihat hingga saat ini, dua minggu ke depan akan menjadi neraka bagi kami," kata Dr Shaarang Sachdev dari Rumah Sakit Khusus Super Perawatan Kesehatan Aakash.

Dr Sachdev pun menunjukkan ruang gawat darurat yang biasanya digunakan untuk menangani tiga pasien.

Namun pada kondisi seperti ini, ruangan itu merawat tujuh hingga delapan pasien.

"Perempuan itu seharusnya berada di ICU sekarang. Dia sudah di sini selama dua hari karena tidak ada tempat tidur dalam ruang perawatan intensif," papar Dr Sachdev, sambil menunjuk seorang perempuan muda yang menggunakan ventilator.

Sulitnya Mendapat Tabung Oksigen, harga naik berkali lipat

Beberapa dokter dan perawat memiliki kerabat yang menderita Covid-19 dan dirawat di rumah sakit tempat mereka bekerja.

"Kami bahkan tidak punya waktu untuk pergi dan mengunjungi mereka. Mereka kelelahan secara fisik dan emosional, banyak yang mudah marah," jelas Dr Sachdev.

Hal yang sama disampaikan Direktur pelaksana rumah sakit Aakash, Dr Aashish Chaudhry yang mengatakan bahwa ia selalu terbangun beberapa kali setiap malam hanya untuk memeriksa persediaan oksigen, mencari sumbernya dan memburu persediaan.

"Saya membeli oksigen dengan harga emas sekarang, sangat mahal. Situasinya telah mencapai tingkat itu dan pemasaran secara ilegal sedang berlangsung. Harga oksigen yang biasanya 20-22 rupee per kilogram, sekarang menjadi 50 rupee per kilogram.

Suntikan remdesivir yang biasanya 4.000 rupee bahkan 2.000 rupee, kini orang harus membelinya dengan harga 40.000 rupee, ini seharusnya tidak terjadi," kata Dr Chaudhry.

Kendati demikian, para tenaga kesehatan ini tetap berupaya memenuhi kebutuhan oksigen bagi para pasiennya.

Mulai dari meminta, menukar bahkan membeli apa yang mereka bisa untuk menjaga agar pasien mereka tetap hidup.

Mereka mencoba melakukan apa yang mereka bisa untuk membuat para pasien ini tetap bernafas.

Rumah sakit ini bahkan telah menambah kapasitas tempat tidurnya dengan merawat pasien Covid-19 yang sakit di sebuah tenda yang dibangun di halaman rumah sakit.

Ada deretan pasien yang sakit di dalam tenda darurat itu dan mayoritas diantaranya memakai oksigen.

[br]

Di sana, seorang Profesor bernama Piush Kant Dixit tengah berjuang mengucapkan kata untuk menyampaikan bahwa dirinya sangat khawatir jika tiba-tiba pasokan oksigennya harus terhenti.

Prof Dixit merasa khawatir dokter maupun perawat di Rumah Sakit itu menjatah persediaan oksigen untuknya.

Rumah sakit kekurangan obat dan peralatan medis

Ketakutan dan kekhawatiran pasien yang bergantung pada setiap tarikan nafas, merupakan hal yang sangat wajar saat terjadi kekurangan stok oksigen di suatu kota maupun negara.

"Kadang-kadang ini berhasil, kadang-kadang silinder lain ini berhenti. Jadi mereka menurunkan tingkat oksigen, meskipun itu diperlukan," kata Dixit, sambil menunjuk ke tangki oksigennya yang diletakkan tepat di samping tempat tidurnya lalu menunjuk ke arah silinder di dekatnya.

Data statistik terkait kasus positif Covid-19 di India semakin mengerikan karena terus mengalami peningkatan, dengan lebih banyak catatan global yang dibuat tentang peningkatan jumlah kasus Covid-19 harian di negara itu.

Perlu diketahui, saat ini India menjadi negara kedua di dunia yang paling terkena dampak berdasarkan kasus aktif.

Selain itu, negara ini juga menjadi negara keempat dengan angka kematian terbanyak akibat virus ini, yakni mencapai lebih dari 190.000 kematian.

Banyak pihak menilai bahwa masih banyak kematian yang tidak dilaporkan dalam total jumlah kematian terbaru.

Trauma, kepanikan hingga ketakutan memang tengah menimpa warga India, bahkan sistem kesehatan negara itu pun kian memburuk, para tenaga kesehatan kini juga kewalahan menangani jumlah pasien yang meningkat secara signifikan.

"Saya belum pernah melihat begitu banyak kematian di ICU kami. Saya mendapat sekitar 50 panggilan dalam sehari hanya untuk menanyakan obat-obatan, tempat tidur, silinder oksigen, kami tidak memiliki apapun saat ini dan pasien kami sedang sekarat," kata Dr Piush Girdar, yang bekerja di bagian perawatan kritis.

Sumber: (Kompas.com, Tribun Timur)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Waktu Memanaskan Mobil Matic Posisi Tranmisi N
Gagal Ramalan Kiamat Tgl 29 Juni 2024 Peramal India Kushal Kumar Merubah Prediksi 10 Agustus 2024
Viral Di dunia Maya, Paranormal India Prediksi Kiamat 29 Juni,Tanggapan Warganet "Tunggu Dulu Dong Utang Belum Bayar"
Sistem Kelistrikan Sumatera Terganggu Picu Pemadaman Serentak, Bukti Kegagalan Subholding PLN
Eks Kapolda Sumbar Teddy Minahasa Dituntut Pidana Mati Kasus Peredaran Gelap Narkoba
Gangguan Penglihatan Akibat Penggunaan Smartphone dalam Waktu Lama
komentar
beritaTerbaru