Polsek Tempuling Laksanakan Pengecekan Ketahanan Pangan, Dukung Program Swasembada Pangan Polda Riau
Indragiri Hilir Dalam rangka mendukung Program Manajemen Swasembada Ketahanan Pangan Polda Riau, personel Polsek Tempuling melaksanakan
Artikel
Pesisirnews.com - Sebagai salah seorang tokoh Pahlawan Nasional, nama Mohammad Yamin rasanya sudah sangat familiar bagi rakyat Indonesia.
Mohammad Yamin, pria Minang kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 ini namanya tidak bisa dipisahkan dari Sumpah Pemuda. Selain itu, dia juga termasuk perumus dasar negara Indonesia yakni Pancasila.
Pada salah satu wawancaranya, Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa Pancasila merupakan ide yang dia gali dari nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang dibantu oleh seorang sahabat yaitu Mohammad Yamin.
Baca Juga:
Beragam profesi telah dilakoni M. Yamin, seperti sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum.
Dibalik berbagai profesi dan segudang prestasi yang telah ditorehkan M. Yamin dalam perjalanan hidupnya, mungkin masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu bahwa M. Yamin merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia.
Baca Juga:
[br]
Awal Mula Mohammad Yamin Berkarier di Bidang Sastra
Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mulai mengalami perkembangan.Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920.
Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air. Yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatera. Tanah Air merupakan kumpulan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkandan menjadi sebuah buku dengan terdiri dari 30 bait dan tiap bait terdiri dari sembilan baris.
Berikut penggalan dari bait pertama sajak Tanah Air:
Pada batasan bukit barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah hutan rimba dan ngarai
Lagi pun sawah, sungai yang permai
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku
Karyanya yang kedua ialah Tumpah Darahku yang terdiri dari 88 bait dan tiap bait terdiri dari 7 baris. Puisi itu dibuat pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah lantaran pada waktu itu Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal.
Berikut adalah penggalan puisi dari Tumpah Darahku:
Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
Dalam puisinya, M. Yamin banyak menggunakan bentuk soneta yang dipinjamnya dari literatur Belanda. Walaupun melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisi-puisinya, beliau masih lebih menepati norma-norma klasik Bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-generasi penulis yang lebih muda.
Karya-karya puisinya kemudian menjadikan M. Yamin sebagai salah satu perintis puisi modern Indonesia.
Yamin juga memiliki peran dalam menciptakan imaji ke-Indonesia-an yang pada akhirnya memiliki pengaruh atas sejarah persatuan Indonesia.
Selain itu, Yamin juga membuat drama sandiwara Ken Arok dan Ken Dedes, esai dan novel sejarah. Ia juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare dan Rabindranath Tagore.
[br]
Jenjang Pendidikan Mohammad Yamin
M. Yamin mengenyam pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Kaei.
Namun setelah tamat, niat untuk melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungkannya karena ayahnya meninggal dunia.
Kemudian Yamin melanjutkan kuliahnya di Rechtshoogeschool te Batavia atau Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, yang kini berubah menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Di sana, Mohammad Yamin berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten atau Sarjana Hukum pada tahun 1932.
Hingga akhir hayatnya, Mohammad Yamin sudah menghasilkan setidaknya 16 karya, mulai dari puisi hingga naskah drama. Ia juga menerjemahkan karya-karya William Shakespeare dan Rabindranath Tagore.
Sumber: (Berbagai Sumber)
Indragiri Hilir Dalam rangka mendukung Program Manajemen Swasembada Ketahanan Pangan Polda Riau, personel Polsek Tempuling melaksanakan
Artikel
TEMBILAHAN Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Indragiri Hilir melaksanakan ke
Advertorial
TEMBILAHAN Bupati Indragiri Hilir, Herman kembali mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk terus konsisten melaksanakan Gerakan Jum&
Advertorial
Tembilahan Bupati Indragiri Hilir, H. Herman, SE, MT secara resmi membuka Turnamen Sepak Bola Bupati Cup Tahun 2026 di Lapangan Stadion
Advertorial
Tembilahan Bupati Indragiri Hilir, H. Herman, SE, MT secara resmi membuka Turnamen Sepak Bola Bupati Cup Tahun 2026 di Lapangan Stadion
Advertorial
Indragiri Hilir Komitmen memberantas peredaran narkotika kembali dibuktikan jajaran Polsek Kateman. Berbekal laporan masyarakat yang dis
Hukrim
BATAM Rasa haru dan syukur menyelimuti kepulangan 307 jamaah haji asal Kabupaten Indragiri Hilir yang tergabung dalam Kloter BTH7. Seti
Advertorial
Tembilahan Hulu, 8 Juni 2026 Satuan Reserse Narkoba Polres Indragiri Hilir (Inhil) kembali berhasil mengungkap tindak pidana penyalahgun
Hukrim
Tembilahan, (7/6/2026) Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Indragiri Hilir, Katerina Susanti, meninjau pelaksanaan Lomba Kuliner Inovatif Be
Artikel
TEMBILAHAN Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hilir bergerak cepat menangani dua titik k
Artikel