Sabtu, 13 Juni 2026 WIB

Tak Banyak yang Tahu Salah Satu Tokoh Sumpah Pemuda, M. Yamin, Ternyata Perintis Puisi Modern Indonesia

- Jumat, 12 Maret 2021 10:53 WIB
2.355 view
Tak Banyak yang Tahu Salah Satu Tokoh Sumpah Pemuda, M. Yamin, Ternyata Perintis Puisi Modern Indonesia
Mohammad Yamin. (Foto: Dokumentasi Harian KOMPAS/Istimewa)

Pesisirnews.com - Sebagai salah seorang tokoh Pahlawan Nasional, nama Mohammad Yamin rasanya sudah sangat familiar bagi rakyat Indonesia.

Mohammad Yamin, pria Minang kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 ini namanya tidak bisa dipisahkan dari Sumpah Pemuda. Selain itu, dia juga termasuk perumus dasar negara Indonesia yakni Pancasila.

Pada salah satu wawancaranya, Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa Pancasila merupakan ide yang dia gali dari nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang dibantu oleh seorang sahabat yaitu Mohammad Yamin.

Baca Juga:

Beragam profesi telah dilakoni M. Yamin, seperti sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum.

Dibalik berbagai profesi dan segudang prestasi yang telah ditorehkan M. Yamin dalam perjalanan hidupnya, mungkin masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu bahwa M. Yamin merupakan salah satu perintis puisi modern Indonesia.

Baca Juga:

[br]

Awal Mula Mohammad Yamin Berkarier di Bidang Sastra

Mohammad Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mulai mengalami perkembangan.Karya-karya pertamanya ditulis menggunakan bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920.

Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air. Yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatera. Tanah Air merupakan kumpulan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkandan menjadi sebuah buku dengan terdiri dari 30 bait dan tiap bait terdiri dari sembilan baris.

Berikut penggalan dari bait pertama sajak Tanah Air:

Pada batasan bukit barisan

Memandang aku, ke bawah memandang

Tampaklah hutan rimba dan ngarai

Lagi pun sawah, sungai yang permai

Serta gerangan lihatlah pula

Langit yang hijau bertukar warna

Oleh pucuk daun kelapa

Itulah tanah, tanah airku

Sumatera namanya, tumpah darahku

Karyanya yang kedua ialah Tumpah Darahku yang terdiri dari 88 bait dan tiap bait terdiri dari 7 baris. Puisi itu dibuat pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah lantaran pada waktu itu Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal.

Berikut adalah penggalan puisi dari Tumpah Darahku:

Bersatu kita teguh

Bercerai kita runtuh

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gunung bagus rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

Dalam puisinya, M. Yamin banyak menggunakan bentuk soneta yang dipinjamnya dari literatur Belanda. Walaupun melakukan banyak eksperimen bahasa dalam puisi-puisinya, beliau masih lebih menepati norma-norma klasik Bahasa Melayu, berbanding dengan generasi-generasi penulis yang lebih muda.

Karya-karya puisinya kemudian menjadikan M. Yamin sebagai salah satu perintis puisi modern Indonesia.

Yamin juga memiliki peran dalam menciptakan imaji ke-Indonesia-an yang pada akhirnya memiliki pengaruh atas sejarah persatuan Indonesia.

Selain itu, Yamin juga membuat drama sandiwara Ken Arok dan Ken Dedes, esai dan novel sejarah. Ia juga menterjemahkan karya-karya William Shakespeare dan Rabindranath Tagore.

[br]

Jenjang Pendidikan Mohammad Yamin

M. Yamin mengenyam pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Kaei.

Namun setelah tamat, niat untuk melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungkannya karena ayahnya meninggal dunia.

Kemudian Yamin melanjutkan kuliahnya di Rechtshoogeschool te Batavia atau Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, yang kini berubah menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Di sana, Mohammad Yamin berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten atau Sarjana Hukum pada tahun 1932.

Hingga akhir hayatnya, Mohammad Yamin sudah menghasilkan setidaknya 16 karya, mulai dari puisi hingga naskah drama. Ia juga menerjemahkan karya-karya William Shakespeare dan Rabindranath Tagore.

Sumber: (Berbagai Sumber)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kapolres Inhil Ngopi Bareng bersama Tokoh Masyarakat
Pihak Management Suzuya Bagan Batu Dipanggil Polisi, Diduga Terkait Laporan Tokoh Agama
Studi: Wanita Berpendidikan dan Mapan Makin Enggan Terikat Pernikahan
Kardinal Vatikan dan 2 Orang Tokoh Lainnya Diberi Gelar Doktor HC oleh UIN Yogya
Penemuan Jasad Diduga Tokoh Majapahit dengan Pakaian Kerajaan Masih Utuh saat Ditemukan
Dandim 0314/Inhil: Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 Miliki Arti Penting Bagi Kesatuan Bangsa
komentar
beritaTerbaru