Jumat, 24 Juli 2026 WIB

Hanya Memberi Tak Harap Kembali

Pengalaman kehilangan ibu membuat banyak orang merasa bagai ”sungai kehilangan muara”.
- Minggu, 21 Desember 2014 00:54 WIB
339 view
Hanya Memberi Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya (foto: istimewa)
PESISIRNEWS.com – Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Siapa yang tidak kenal lagu ini? Meskipun syairnya tidak panjang, namun sudah memberi gambaran tentang kasih seorang ibu. Sosok  ibu senantiasa digambarkan sebagai  pribadi yang kaya dengan cinta kepada keluarga. Melalui didikan seorang ibu, pengetahuan dasar tentang  cinta kasih, kehangatan, keindahan, kepedulian ditumbuhkembangkan. Dalam keseharian sosok ibu juga diharapkan  siap melayani kebutuhan anak dan suaminya sepanjang hari.

Karena itulah, kehadiran ibu sangat berarti bagi peradaban manusia. Bukankan semua manusia yang terlahir di dunia ini tidak lepas dari bentukan seorang ibu? Melalui rahim seorang ibu, setiap individu terlahir di dunia ini. Melalui asuhannya, anak-anak mengenal tentang kehidupan. Sehingga wajar kalau ibu juga menjadi role model bagi banyak individu. Dari ibu yang kuat dan hebat terlahirlah sosok-sosok yang kuat dan hebat juga.

Hampir semua orang mengamini arti penting kehadiran seorang ibu. Bahkan ada ungkapan: ”Surga  ada di telapak kaki ibu.” Ketidakhadiran ibu dalam keluarga dan masyarakat menjadikan suasana terasa hambar. Pengalaman kehilangan ibu membuat banyak orang merasa bagai ”sungai kehilangan muara”.  Pernyataan ini hendak mengungkapkan bahwa ibu, meski juga tak lepas dari kekurangan,  sering menjadi tempat pelarian ketika ada persoalan.

Hanya sayang seribu sayang, cinta kasih ibu yang tak terhingga sering kali direduksi sedemikian rupa. Identitasnya sebagai perempuan hilang ketika dia menikah. Ani yang menikah dengan  Joko tidak lagi disapa ”Bu Ani”, tetapi ”Bu Joko”.

Tak hanya itu, kelemahlebutannya acap disalahartikan oleh anggota keluarga yang lain. Tidak jarang kita mendengar dan melihat anak yang berani dengan ibunya, anak yang menghina ibunya   maupun anak yang menelantarkan ibunya di usia senja. Padahal orang bijak mengungkapkan: ”Seseorang tidak akan bisa disebut berhasil selama dia belum bisa mencintai ibunya.”

Keprihatinan lain tentang nasib para ibu adalah meningkatnya jumlah kekerasan terhadap istri dari tahun ke tahun. Kekerasan dalam berbagai bentuk baik itu fisik, psikis, ekonomi, seksual. Inilah potret yang terjadi di tengah masyarakat kita. Di satu sisi merindukan kehadiran sosok ibu, tetapi di sisi lain membuat hati ibu berduka. Seperti inikah cara kita membalas ibu yang kasih sayangnya begitu tak terhingga?

Besok, 22 Desember, adalah hari ibu.  Sudah 61 tahun bangsa Indonesia memperingati hari ibu sejak  ditetapkan Presiden Soekarno dalam Dekrit Presiden No 310  tahun 1953.  Namun, perjuangan untuk menempatkan ibu dengan identitas yang otentik masih harus dilanjutkan. Hal itu harus kita mulai dari rumah kita.

Selamat Hari Ibu!

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Bakti Kesehatan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Inhil Hadirkan Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat
Polres Inhil Gelar Bakti Sosial Pembagian Air Bersih Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026
Polsek Tempuling Bersama Puskesmas Sei Salak Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba di Desa Mumpa
Polsek Gaung Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba
Polres Inhil Gelar Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Desa Sungai Luar
Bhakti Sosial Polres Inhil bersama Mahasiswa dan OKP.
komentar
beritaTerbaru