Jumat, 11 September 2026 WIB

Nyaman dalam Penderitaan?

- Senin, 01 Desember 2014 14:38 WIB
911 view
Nyaman dalam Penderitaan?
Pemukiman di Bantaran Ciliwung (foto: istimewa)
Manusia memang makhluk pembelajar, tetapi sayangnya tidak semua. Seandainya mau belajar pun belum tentu mau mengerahkan potensinya untuk mencapai sesuatu.

PESISIRNEWS.com – Gubernur DKI Jakarta Ahok di sebuah media televisi pernah menyatakan kekesalannya. Pasalnya ketika memindahkan penghuni bantaran kali Manggarai yang sering kebanjiran, untuk dipindahkan ke rumah susun, ternyata mereka malah balik lagi tinggal di pinggir kali yang kotor dan kumuh. Lebih menjengkelkan lagi disinyalir rumah susun yang dikasih cuma-cuma lengkap dengan perabot dan peralatan rumah tangga termasuk tv dan kulkas, eh malah dijual orang lain dan uangnya mereka kantongi lalu balik lagi ke tempat semula.

Kenapa mereka lakukan itu, bukankah niat Pemerintah itu baik? Bukankah upaya itu untuk meningkatkan harkat dan martabat, juga meningkatkan derajat kesehatan dan penghasilan? Tampaknya niat baik saja tidak cukup ampuh, selama belum diiringi mental masyarakat yang diberikan niat baik tadi.

Rupanya terlalu lama dalam penderitaan membuat seseorang atau sekelompok masyarakat menjadi kebal dengan lingkungannya. Dia sudah merasa nyaman dengan alam sekitar yang ada, dan mereka pikir hanya itulah yang bisa mereka rasakan sepanjang hidupnya. Jadi, ketika dipindahkan, notabene harus memulai lembaran hidup baru yang seharusnya disyukurinya, malah membuat mereka tidak nyaman. Sebab harus menyesuaikan diri yang ternyata tidak mudah—mengubah gaya hidup dan menyesuaikan dengan lingkungan orang-orang yang baru dikenalnya. Atau, bahkan sengaja supaya kalau terkena musibah lagi masih dapat bantuan seperti yang sudah-sudah?

Kelihatannya, sebuah pola pikir tidak serta-merta mudah diubah seperti membalik telapak tangan. Cara pandang itulah yang kadang membuat seseorang lama untuk bersosialisasi dan menyesuaikan diri, termasuk ketika harus mempelajari hal-hal baru yang belum pernah dikenalnya.

Manusia memang makhluk pembelajar, tetapi sayangnya tidak semua. Seandainya mau belajar pun belum tentu mau mengerahkan potensinya untuk mencapai sesuatu. Sangat tergantung manusianya. Atau, bisa jadi nyaman dalam penderitaan adalah sebuah pilihan? satuharapan.com

SHARE:
Tags
beritaTerkait
Terima Laporan Hasil Pemeriksaan BPK, Kementan Raih Opini WTP 6 Tahun Berturut-turut
Workshop Public Relations: Kekuatan Opini Publik dan Dampak pada Citra Institusi
Desakan Praktisi Hukum yang Meminta Kapolres Rohil Dicopot Merupakan Penilaian Subyektif
Menjadi Wartawan yang Tahan Terhadap Godaan
Gairah Ilmu, Harapan Mendulang Masa Depan
Gubernur Anies:Massa 212 Lebih Banyak Daripada Massa menyambut Tahun Baru 2018,Tapi Sampahnya Sedikit
komentar
beritaTerbaru