SURABAYA ? Pernyataan Ketua
Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, bahwa,
ada sesuatu yang datang dari luar dan membuat umat Islam Indonesia
menjadi radikal dan beringas, mendapat tanggapan serius dari Sekretaris
Jenderal Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah, H Nur Hadi ST.
Menurut Cak Nur, panggilan akrabnya,
radikalisme itu kemudian diseret ke ranah politik praktis. Dijadikan
alat politik. Umat Islam, khususnya warga NU ditakut-takuti dengan
ancaman tersebut, sehingga ikutan beringas. Isu wahabi, khilafah
digoreng sedemikian rupa, sehingga nahdliyin ikut-ikutan marah, walhasil
dimanfaatkan untuk modal politik.
"Jadi, satu-satunya jalan adalah
meletakkan NU pada khitthahnya. Tidak larut dalam gerakan politik
praktis. Sayangnya, PBNU gagal. Rais Aam yang seharusnya mengayomi
justru menjadi Cawapres. Lebih gagal lagi, setelah menjadi Cawapres,
Kiai Ma'ruf menjadi Mustasyar PBNU. Ini juga harus diakui sebagai
kegagalan," katanya kepada duta.co, Kamis (01/11/2018).
Seperti disampaikan KH Said Aqil Siroj,
bahwa, radikalisme itu bukan jati diri masyarakat Indonesia. "Belakangan
ini kita rasakan ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang asing. Ada
sesuatu dari luar ini rasanya, di antara saudara kita jadi beringas,
jadi radikal, jadi keras," kata Kiai Said saat konferensi pers usai
silaturahmi di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu malam (31/10).
Tampak H Nur Hadi ST (tiga dari kanan) dalam sebuah acara. (FT/IST)
Kiai Said tidak merinci apa yang membuat umat Islam Indonesia menjadi
radikal tersebut. Dia hanya menekankan bahwa jati diri umat Islam
Indonesia adalah ramah, toleran, santun, dan berakhlak.
Menurutnya, nilai-nilai itu merupakan
ciri khas yang diakui oleh negara-negara lain. Termasuk juga
negara-negara Islam yang berada di kawasan Timur Tengah.
Gagal 'Selamatkan' Rais Aam
Masih menurut Kiai Said, jati diri
tersebut juga merupakan kebanggaan. Tidak semua masyarakat di negara
lain memiliki kultur seperti itu. Dia memberi contoh umat Islam di
kawasan Timur Tengah yang kerap mengalami perang saudara bahkan memakan
waktu hingga puluhan tahun.
"Lah ini kita malah seperti sudah bosan dengan kepribadian yang santun ini," jelas Kiai Said.
Menanggapi hal ini, Cak Nur mengatakan,
ini bukan soal bosan dengan kepribadian yang santun, tetapi, disadari
atau tidak, semua ini lantaran kita (PBNU red.) sudah dalam remote
kontrol politik.
"Contoh, politisi mana, termasuk Pak
Jokowi, semua tahu bahwa Rais Aam PBNU itu dilarang masuk politik
praktis, tetapi, nyatanya toh dicalonkan. Setelah itu disuguhi isu
wahabi dan khilafah. Habislah kita," jelas pengusaha otomotif di
Sidoarjo ini.
Karenanya, ia mengaku salut dengan
langkah dzurriyah muassis (anak cucu pendiri) NU yang membentuk Komite
Khitthah, mengembalikan NU pada jalurnya. "Kalau ini berhasil, NU
benar-benar menjadi soko guru NKRI, mengayomi semuanya," tegasnya.