DUMAI, PESISIRNEWS.COM - Hingga pertengahan bulan September 2015, Dinas Kesehatan Kota Dumai mencatat sedikitnya 168 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan di Kota Dumai.
"Hingga pertengahan Bulan September 2015, Dinas Kesehatan Kota Dumai mencatat sudah ada 168 kasus DBD di Kota Dumai. namun hingga saat ini belum ada yang meninggal dunia akibat DBD dan jumlah tersebut belum termasuk kategori kejadian luar biasa (KLB)," sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai H Paisal SKM Mars, Senin (21/9/2015).
Lanjutnya, faktor utama DBD di Kota Dumai adalah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut berkembang biak dibak-bak penampungan air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng bekas dan lainnya.
Perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti hingga saat ini masih berhubungan erat dengan beberapa faktor, seperti kebiasaan masyarakat menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari, jauh dari prilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi lingkungan yang kurang baik dan penyimpanan air bersih yang lama hingga akhirnya dijadikan media untuk berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti.
"Untuk memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti kami mengajak seluruh lapisan masyarakat Kota Dumai untuk ikut serta mensukseskan program 3M yaitu menutup bak penampungan air, menguras atau membersihkan bak penampungan air dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. 3M merupakan cara yang efektif dan efisien mencegah DBD dengan cara memutus mata rantai perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti," terangnya mantan Kabag Kesra Pemko Dumai ini.
Masih kata Paisal, Kota Dumai merupakan Kota endemis DBD, dari 7 kecamatan ada 3 kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan endemis DBD yaitu Kecamatan Dumai Barat, Dumai Timur, dan Kecamatan Dumai Selatan.
"Kepada seluruh masyarakat Dumai khususnya masyarakat yang tinggal di Kecamatan Endemis DBD harus waspada dengan penularan DBD, karena tidak hanya iklim yang meningkatkan perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti, tetapi pola hidup masyarakat yang jauh dari sehat pun menjadi faktor utama DBD dan pola hidup bersih dan sehat akan menghindari masyarakat dari DBD," imbau Paisal.
Bahkan kepedulian masyarakat sangat diharapkan untuk ikut serta mensukseskan program 3M dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dapat dimulai dati lingkungan kita masing-masing.
"Mari sukseskan program 3M dan PHBS, sebab penyakit DBD berbahaya, belum ada obatnya dan dapat menyebabkan kematian," tegas Paisal.
Bagi masyarakat yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti agar segera membawa ke Puskesmas terdekat, untuk diketahui gejala DBD diantaranya munculnya demam tinggi terus menerus, disertai tanda perdarahan/bintik-bintik dikulit. Jika ditemukan tanda-tanda tersebut kami mengajak masyarakat untuk segera membawa berobat kepuskesmas terdekat.
"Dan kami meminta agar masyarakat lebih waspada dan memerlukan pengetahuan luas mengenai pencegahan maupun penanganannya," ujar Paisal yang juga pernah menjabat sebagai Direktur RSUD Kota Dumai ini.
(dcp)