pesisisrnews.com,Takdir, kemauan, dan usaha yang gigih. Tiga kekuatan
yang dimiliki seorang wanita renta, yang bersama suaminya dalam
perjalanan menunaikan rukun Islam yang kelima.
Di Masjid Asrama Haji Jawa Barat Embarkasi Bekasi, wanita itu
mengambil shaf di bagian belakang, ia tampak duduk dan mulai mengaji.
Cici, 64 tahun, demikian nama singkat jamaah calon haji asal Sumedang itu. Kamis siang, 10 Agustus 2017, hidayatullah.com menghampiri Cici. Setelah mengucapkan salam, ia menutup mushafnya dan memulai percakapan.
Baca Juga:
Ia bertutur, kesehariannya merupakan penjual sayur di Pasar
Darmaraja, Sumedang, Jabar. Saban hari, sebelum sakit-sakitan, Cici
pergi ke pasar pada pukul 1 dini hari dan pulang ke rumahnya jika azan
ashar mulai berkumandang.
Namun ketika ia mulai sakit-sakitan, Cici bersama suami berangkat ke pasar setelah shalat subuh bersama suami dan anak-anaknya.
Baca Juga:
Keberangkatan Cici untuk naik haji berawal dari niatnya yang kuat
bersama suami, Parja. Segala daya dan upaya ia usahakan, mulai dari
menjual sayur mayur, kelontongan, serta apa saja yang bisa menghasilkan
uang.
"Saya selalu mendawamkan dalam hati saya, agar diberangkatkan ke Tanah Suci, ada aja rezeki yang Allah kasih," ungkapnya saat ditemui media ini sehabis shalat zhuhur di Masjid Embarkasi Bekasi.
Selama tujuh tahun pun, Cici terus menabung rupiah demi rupiah
bersama suaminya. Sembari mengumpulkan dana untuk berangkat ke
Baitullah, ia selalu bermunajat kepada Allah, agar selalu dimantapkan
hatinya dan selalu bertawakal kepada-Nya.
"Alhamdulillah, dari hasil penjualan sayur, saya tabung dan mengikuti
arisan bersama teman-teman hingga uang saya terkumpul sebanyak Rp 25
juta. Dan saya mampu mendapatkan kursi di tahun 2011, hingga tahun 2017
mampu melunaskan keseluruhan dari biaya haji," lanjutnya dengan wajah
tampak gembira.
Cici lantas menuturkan kehidupan masa lalunya, dimana ia mengalami
kesempitan ekonomi. Belum lagi, saat anak laki-lakinya mulai terpengaruh
lingkungan buruk dengan menenggak minuman keras, ini merupakan episode
terburuk yang Cici alami dalam hidupnya.
Hingga kemudian, tuturnya, ia mulai rajin berpuasa, dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya.

Ia selau berdoa agar dimudahkan bisa sampai ke Baitullah. [Foto: Zulkarnain/hidayatullah.com]
Harapan di Baitullah
Tentu, jamaah calon haji pasti memiliki azam yang tinggi dan berharap
banyak sesampainya nanti di Tanah Suci, salah satunya untuk memanjatkan
doa. Begitulah yang dirasakan Cici. Ia memiliki harapan yang kuat agar
dimudahkan beribadah di Baitullah nanti.
"Insya Allah, jika saya sampai di Makkah, saya ingin shalat di depan
Kabah dan berdoa agar anak-anak saya menjadi anak yang shaleh dan
shalehah, rajin beribadah, dijauhkan dari bala dan marabahaya,
dipanjangkan umurnya, serta diberikan segala kebaikan," tuturnya.
Saat menuturkan cerita itu, tak terasa air matanya mulai mengaliri
pipinya. Sesekali ia sesenggukkan mengingat masa lalu yang pernah ia
hadapi, termasuk ketika orangtuanya meninggal dunia, hingga ia banting
tulang bersama suami demi menafkahi anak-anaknya yang masih kecil kala
itu.
Cici pun bertutur, di balik usaha-usaha untuk bisa menuju Baitullah
itu, ada kebiasaan lain yang ia amalkan bersama suaminya. Ia juga
mengajak keluarganya yang lain untuk selalu mengamalkan kebiasaan ini.
Apa itu? Rupanya, Ibu Cici selalu berusaha untuk bersedekah kepada orang yang lebih membutuhkan darinya,
"Banyak sedekah, Nak, kepada anak yatim piatu dan peduli kepada
sesama, insya Allah dimudahkan segala urusan kita," pesannya kepada awak
media ini.
"Selalu bahagia, Nak, meski sesusah apa pun kamu. Allah masih selalu
bersama kamu," pungkasnya berwasiat, sambil menghadiahkan senyuman
kepada hidayatullah.com sebelum ia pamit ke kamar tempatnya beristirahat.
Selamat menunaikan ibadah haji Cici beserta suami, semoga Allah menjadikan keduanya dan jamaah yang lain sebagai haji mabrur.(sumber hidayatullah.com).