Oleh: Syarifuddin, SP.,S.Pd.,M.Pd

Baca Juga:
Pesisirnews.com - Di era globalisasi ini masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membuat hilangnya batas informasi, dimana semua budaya asing sangat mudah masuk ke Indonesia dan memengaruhi gaya hidup para generasi penerus bangsa.
Menyikapi dinamika tersebut, maka bangsa kita perlu menerapkan pendidikan yang berkarakter, yang berlandaskan Pancasila sehingga melahirkan generasi yang pancasilais.
Baca Juga:
Globalisasi telah melakukan pergeseran pada tujuan pendidikan nasional dalam mencerdasarkan kehidupan bangsa karena globalisasi berfokus untuk menghasilakan lulusan yang menguasai scentia.
Mengutip Saksono (2010:76), penguasaan scientia dinilai mengarahkan murid kepada hasil yang bersifat pragmatis dan materialis karena kurang membekali murid dengan semangat kebangsaan, semangat keadilan sosial, serta sifat-sifat kemanusiaan dan moral luhur sebagai warga negara.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia semestinya dapat mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten agar dapat memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan perlu terus menerus ditingkatkan dengan memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagaimanana yang terdapat pada sila-sila Pancasila dan yang diamanatkan dalam UUD 1945.
[br]
Bagaimana agar Sistem Pendidikan Kita tidak Hanya Terfokus pada Model Scentia?
Scientia adalah kata Latin untuk ilmu pengetahuan (Inggris: science). Istilah ini dipopulerkan oleh Federigo Enriques dan Eugenio Rignano pada tahun 1907. Definisi scentia secara umum adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.
Scientia sebagai ilmu tentu harus diajarkan kepada anak didik kita, namun unsur pragmatis dan materialis perlu dibentengi dengan basis spiritualitas sehingga di dapat keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Dengan demikian para pendidik dapat membentuk karakater generasi penerus bangsa yang berilmu, beriman dan bertaqwa secara paripurna.
Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, hendaknya usaha dalam memajukan bangsa Indonesia ditempuh melalui petunjuk “TRIKON†yaitu Kontinyu dengan alam masyarakat Indonesia sendiri, konvergen dengan alam luar, dan akhirnya bersatu dengan alam universal dalam persatuan yang konsentris, yaitu bersatu namun tetap mempunyai kepribadian sendiri.
Menurut penulis, untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa tidak dibutuhkan satu mata pelajaran tersendiri yang berdiri sendiri, karena pendidikan karakter bangsa dapat diberikan oleh semua guru mata pelajaran yang diintegrasikan dalam penyampaian pembelajaran oleh semua guru mata pelajaran.
Penerapan pendidikan karakter bisa diwujudkan melalui program pengembangan diri atau kegiatan ekstra, misalnya melalui pembiasaan-pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, serta keteladanan dari guru dan tenaga kependidikan di sekolah.
Tujuannya agar murid memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif, yang selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).
Pembiasaan melakukan hal yang positif pada anak didik dapat membantu mereka menjadi insan yang sopan dan santun, baik dalam lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak, baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efisien dalam mengubah kebiasaan negatif menjadi positif.
[br]
Metode “AKSI KELAPA†dan Pembiasaan Membaca Al-Quran dalam Menumbuhkan Nilai Karakter Siswa
Untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang berkarakter pancasilais, maka sistem pendidikan di Indonesia harus didasarkan pada perilaku hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
Disini penulis ingin mendeskripsikan sebuah metode yang penulis sebut dengan Metode AKSI KELAPA (Kreativitas, Elaborasi, Literasi, Aktif, Patriot, dan Agama).
Melalui ruang yang terbatas ini penulis membuat rangkuman mengenai bagaimana menerapkan pembiasaan membaca Al-Quran untuk anak didik kita melalui metode AKSI KELAPA yang dapat diimplementasikan ke dalam aksi nyata di dunia pendidikan kita.
Adapun langkah-langkah untuk memulai aksi nyata adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. menyusun rencana program pembiasaan membaca Al-Quran
b. menyusun jadwal untuk pelaksanaan pembiasaan membaca Al-Quran.
2. Pelaksanaan
a. mendiskusikan kesepakatan pelaksanaan pembiasaan kepada seluruh warga sekolah
b. melaksanakan proses pembiasaan membaca Al-Quran pada setiap hari
c. mengirimkan hasil pembiasaan membaca Al-Quran melalui rekaman suara di grup WA sekolah.
3. Refleksi
a. mengevaluasi hasil pembiasaan membaca Al-Quran pada setiap setiap bulan
b. melakukan perbaikan untuk ke selanjutnya.
Melalui implementasi metode AKSI KELAPA untuk pembiasaan membaca Al-Quran terhadap anak didik, penulis berharap dapat membentuk karakter mereka menjadi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, dan peduli terhadap sesama.
Dengan demikian apa yang diharapkan dari Tujuan Pendidikan Nasional untuk menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila dapat kita capai.
Tentang Penulis:
Penulis adalah seorang PNS guru yang bertugas di SMP Negeri 5 Kempas Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Selain mengajar, penulis juga Tutor Universitas Terbuka Pokjar Tembilahan. Melalui tulisan yang padat dan mudah dicerna, penulis menyalurkan semangat dan pemikirannya dalam upaya memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir.
(Catatan Redaksi: Tulisan yang dikirim ke dapur redaksi dan dimuat, isinya merupakan tanggung jawab sepenuhnya dari penulis)