Minggu, 03 Mei 2026 WIB

Analis Politik: Perseteruan “Cebong-Kampret” Terus Berlanjut Meski Prabowo-Sandi di Kubu Jokowi

- Kamis, 24 Desember 2020 10:53 WIB
828 view
Analis Politik: Perseteruan “Cebong-Kampret” Terus Berlanjut Meski Prabowo-Sandi di Kubu Jokowi
Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (Kredit foto via Tribunnews)

JAKARTA, Pesisirnews.com - Prabowo-Sandiaga merupakan lawan Jokowi-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019 lalu. Pertarungan sengit mereka berujung terbelahnya masyarakat Indonesia hingga muncul istilah "cebong-kampret".

Cebong istilah untuk pendukung Jokowi, sementara kampret disematkan kepada fans Prabowo.

Polarisasi atau pembagian dua kelompok masyarakat yang berlawanan dinilai akan tetap menguat meskipun Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno kini bergabung dalam kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca Juga:

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo mengatakan polarisasi di tengah masyarakat tak akan hilang sekalipun Prabowo dan Sandiaga sudah masuk dalam barisan Jokowi.

Prabowo lebih dahulu bergabung setelah diangkat sebagai menteri pertahanan, sedangkan Sandiaga baru kemarin dilantik menjadi menteri pariwisata dan ekonomi kreatif.

Baca Juga:

"Polarisasi politik di Indonesia bukan berdasarkan partai, atau berdasarkan tokoh. Jadi kalaupun tokohnya melebur, polarisasi tetap ada," kata Kunto seperti dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (23/12/2020).

[br]

Kunto mengatakan istilah 'cebong-kampret' pada Pilpres 2019 tetap eksis hingga hari ini. Istilah tersebut kini berubah menjadi 'kadrun-togog'.

Menurut Kunto, kondisi tersebut membuktikan bahwa polarisasi akan tetap ada. Ia menyebut pendukung Prabowo sendiri akan mencari sosok baru untuk disokong lantaran mantan Danjen Kopassus itu sudah masuk gerbong Jokowi.

Kunto mengatakan tokoh baru yang didukung tersebut kemudian akan muncul mewakili identitas mereka. Identitas itu sangat beragam dan tak melulu soal agama, etnis, dan suku.

Lebih lanjut, Kunto menyebut polarisasi yang terjadi di tanah air cenderung muncul dengan wujud polarisasi afektif. Kondisi tersebut kemudian melahirkan kecenderungan pihak yang merasa paling benar, sementara yang berada di sisi lain dinilai salah.

"Polarisasi di Indonesia itu polarisasi afektif yang berdasarkan perasaan, lebih emosional. Karena sudah terpolarisasi secara kelompok, identitas kelompok yang sudah dimunculkan akhirnya memproduksi terus menerus," ujarnya.

[br]

Kunto mengatakan polarisasi afektif ini berbahaya bila terus terjadi di tengah masyarakat. Polarisasi afektif mampu membuat bangsa gagal dalam mengidentifikasi isu kebangsaan yang lebih penting.

Menurutnya, perhatian publik akan cenderung mengerucut pada isu-isu yang hanya relevan dengan identitas mereka masing-masing.

"Jadi ini akhirnya memuncak, orang akhirnya punya identitas kelompok baru," kata Kunto.

Kunto menambahkan polarisasi ini juga bisa dimanfaatkan sejumlah pihak untuk membawa kepentingan pribadi maupun kelompok. Menurutnya, setelah Prabowo-Sandi masuk kubu Jokowi, akan muncul tokoh oposisi baru.

Kunto menyebut tokoh tersebut akan menjelma sebagai pionir yang mewakili identitas. Kemudian tokoh tersebut memanfaatkan suara masyarakat dalam menggalang dukungan untuk kontestasi politik, seperti Pilpres 2024.

"Jadi misalnya melihat ceruk pasar ada 'kadrun vs togog', dia akan masuk di salah satu di antaranya, tidak mungkin kan bikin ceruk pasar sendiri," ujarnya.

Sumber: (cnnindonesia.com)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Hadiri Pemakaman, Kapolri: Pesan Eyang Meri Jadi Inspirasi dan Semangat Keluarga Besar Polri
Lapor Pak Presiden! Usut Dugaan Penyelewenangan Uang Negara Dibalik Seluruh Penghargaan Dirut PLN
Kick Off Ketahanan Pangan di Inhil, Dukung Program Asta Cita Presiden
Daftar Lengkap Susunan Kabinet Merah Putih
Ini Nama Nama Calon Menteri Yang Di Panggil Prabowo Di Kertanegara, Jakarta Selatan
Harta Kekayaan Titiek Soeharto Mantan Istri Presiden Terpilih Prabowo Subianto
komentar
beritaTerbaru