MERANTI, PESISIRNEWS.COM - Jenazah Pratu Rudi Haryono (27) prajurit TNI Angkatan Udara dari Batalyon Komando Pasukan Khas (Paskhas) 462 Pekanbaru yang tewas dalam tragedi jatuhnya pesawat Hercules C- 130 di Medan, hari ini dimakamkan secara militer.
Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Kamis (2/7) pagi di Taman Makam Pahlawan Bunga Bangsa, Jalan Alahair, Selatpanjang Kepulauan Meranti, itu berjalan aman dan khidmat. Pemakaman tersebut dipimpin oleh Wakil Komandan (Wadan) Mayor Pasukan Agus Yoga Permana.
"Kami kehilangan prajurit teladan yang telah mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa. Ini sudah suratan dari Tuhan. Walau bagaimana pun kami tetap tegar menghadapinya," kata Agus.
Untuk diketahui, Rudi Haryono merupakan anak dari almarhum Suparno dan Suhatini yang lahir di Selatpanjang, Desa Alahair pada tanggal 22 Juni 1988. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu meninggalkan satu orang istri Icha Kusnani (21), dan belum dikaruniai seorang anak. Istri almarhum tak kuasa menahan tangis saat menaburkan bunga di pusara suaminya. Sejumlah kerabat pun turut haru dalam prosesi pemakaman tersebut.
Usai pemakaman, Icha Kusnani tidak henti meneteskan air mata karena tak kuasa menahan kesedihan. Sesampainya dirumah duka, Icha tak kunjung bisa menahan tetesan airmatanya, karena orang yang ia cintai, pergi untuk selama-lamanya.
Sambil menyeka air mata Icha menceritakan, bahwa dia sudah satu bulan lamanya tidak bertemu dengan suaminya, karena dia harus pulang ke Bangka Belitung untuk mengurus orang tuanya yang sedang sakit.
"Pagi itu sebelum tragedi Hercules terjadi, sekitar pukul 08:00, papi sempat memberi kabar bahwa dirinya akan segera berangkat ke Tanjung Pinang, karena pesawat sudah landing di bandara, dia juga sempat berpesan kalau saya disuruh menunggu di Selatpanjang, lalu pada pukul 11 :00 sambil baring-baring saya mendengarkan radio, dalam berita tersebut saya mendengar bahwa pesawat Hercules dengan nomor penerbangan A1310 jatuh di Padang Bulan Medan, sambil berlari saya melihat di televisi, ternyata kejadian itu benar adanya,lalu saya meminta kepada abang ipar untuk menyusuri kebenaran berita tersebut, ternyata suami saya benar-benar sudah tiada," kata Icha sambil terisak-isak.
Pasangan yang baru menikah setahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Februari 2014 sempat memiliki anak, namun pada usia kehamilan mencapai 14 minggu, sang istri mengalami keguguran pada 12 Mei yang lalu.
Wanita kelahiran Tanjung Pandan Bangka Belitung ini juga menceritakan bahwa sang suami merupakan sosok yang baik hati dan tidak pernah mengeluh dalam tugas apapun yang diembankan kepadanya.
"Papi orangnya memang pendiam, tapi baik hati dan tidak pernah mengeluh, dia hanya mengatakan bosan diposko jaga karena tidak memiliki games untuk bermain seperti teman-temannya, namun pada ulang tahun nya yang ke 27 pada tanggal 22 Juni yang lalu, dia sempat meminta kepada saya untuk membelikan Tabs untuk bermain games, lalu saya berjanji untuk membelikannya, namun janji itu belum sempat saya tunaikan," ungkap Icha berkaca-kaca.
Sebagaimana dikatahui, 10 anggota Paskhas 462 ini seharusnya menjalakan tugas pengamanan objek vital di Satuan Radar (Satrad) 213 di Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Namun dalam perjalanan dari Medan menuju Tanjung Pinang, pesawat yang mereka tumpangi jatuh pada Selasa, 30 Juni 2016.(Adi)