
Bhabinkamtibmas Desa Belaras Koordinasi Pendataan Lahan Jagung untuk Dukung Swasembada Pangan
Mandah Dalam rangka mendukung program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, Bhabinkamtibmas Desa Belaras, Kecamatan Mandah, K
Artikel
Hasilnya, para kiai sepakat membentuk Komite Khitthah (KK) untuk mengingatkan PBNU agar tetap berada di jalur khittah sesuai dengan keputusan Muktamar NU ke 27 di Situbondo.

"Para kiai sedih, menangis menyaksikan NU yang terlalu jauh diseret ke politik praktis. Melalui Komite Khitthah kita ingatkan agar kembali ke jalan yang benar," tegas Drs H Choirul Anam (Cak Anam) sebagai juru bicara Komite Khitthah kepada wartawan usai pertemuan.
Tetapi, tegas Cak Anam, sebelum melangkah lebih jauh, tim kecil dari Komite Khitthah ini akan sowan kepada para kiai sepuh, mohon doa restunya agar perjuangan ini berhasil dan bisa tetap istiqomah, penuh keikhlasan demi jamiyah NU.
Baca Juga:
"Sudah dibagi tugas tadi, siapa saja yang sowan ke kiai sepuh, di antaranya sowan ke KH Maimun Zubair, KH Mustofa Bisri, dan KH Tolchah Hasan. Doa restu dan saran beliau ini sangat penting," tambahnya.
Ketika ditanya wartawan apa saja 'penyimpangan' yang dilakukan PBNU? Cak Anam justru balik bertanya: Menurut Anda (wartawan) apa?
Baca Juga:
"Saya kira wartawan lebih paham. Dari Muktamar ke-33 NU di Jombang, cerita Pak Mahfud MD di ILC, sampai 'pengambilan' Rais Aam sebagai Cawapres, semua ini harus dikoreksi," jelas mantan pengurus PWNU Jatim ini.
Sekedar contoh, tambahnya, adalah pimpinan tertinggi NU, yakni Rais Aam, tidak boleh dicalonkan atau mencalonkan jabatan politik apa pun. Itu termaktub dalam anggaran dasar. "Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Kiai Ma'ruf Amin, termasuk naiknya Wakil Rais Aam menjadi Rais Aam," katanya.
Dalam anggaran dasar, wakil Rais Aam bisa penjabat Rais Aam dengan catatan apabila Rais Aam berhalangan tetap. Contoh, saat Almaghfurlah KH Sahaf Mahfudz berpulang ke rahmatullah. Karena berhalangan tetap, akhirnya digantikan KH Mustofa Bisri.
"Nah, saat ini, KH Miftakhul Akhyar menggantikan KH Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam, sementara Kiai Ma'ruf tidak sedang berhalangan tetap, ini keliru. Celakanya lagi, Kiai Ma'ruf pindah tempat menjadi Mustasyar. Makanya ada usul kepada PBNU untuk mengundang ulama NU dan seluruh pengasuh pesantren se-Indonesia untuk membahas pengangkatan Rais Aam yang baru itu, Munas misalnya," ujarnya.
Ketika didesak wartawan apakah lepasnya Kiai Ma'ruf dari Rais Aam menjadi Cawapres ini merupakan musibah? Cak Anam tidak menolak. Menurut Cak Anam, seluruh peserta halaqah sepakat, bahwa, ini musibah bagi NU.
"Maka, tahun ini (2018) yang dipahami segenap bangsa sebagai tahun politik, tahun dimulainya pesta demokrasi, disambut dengan sukacita, tetapi, tidak bagi NU, atau setidaknya bagi yang paham NU. Tahun 2018 ini justru merupakan aamul huzni, tahun kesedihan, tahun duka cita."
"Mengapa? Sebab, sejak Agustus 2018 lalu, di saat rakyat sedang bergembira menyambut dimulainya pesta demokrasi, NU justru ditinggal pergi pemimpin tertingginya (Rais Aam) yang mestinya bertugas menjaga khitthah. Kami semua sedih," tegasnya dengan nada lirih.
Masih menurut Cak Anam, mengapa NU harus teguh memegang khitthah? "Karena antara NU dan politik praktis itu, beda paradigma. NU itu urusan benar dan salah, sementara politik praktis menang atau kalah. NU menggunakan dasar agama, politik praktis menghalalkan segala cara. Ini bertolak belakang," tegasnya.
Halaqah ke-2 ini merupakan kelanjutan dari halaqah sebelumnya yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang bulan kemarin. Hadir dalam halaqah ini pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Prof Aminuddin Kasdi, Prof Ahmad Zahro, KH Suyuti Toha dari Banyuwangi, Prof Nasihin Hasan dari Jakarta, KH Maimun dari Sumenep.
Tampak pula Gus Muzammil dari Yogyakarta, Tengku Bulkaini dari Aceh, KH Musthofa Abdullah dari Bogor, Gus Endang Muttaqin dari Tangerang, KH Zainal (Jawa Tengah).
"Komite Khittah ini kembali menggelar halaqah (ketiga) pada Rabu 5 Desember di Situbondo," pungkas Cak Anam.
Ditanya soal masuknya kepentingan politik Pilpres, Cak Anam menolak tegas. "Tidak ada kepentingan politik Pilpres. Kalau ada peserta halaqah ingin membuat Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) mendukung Jokowi atau Barisan Kiai Santri Nahdliyin (BKSN) mendukung Prabowo, itu di luar Komite Khitthah. Silakan! Tapi di luar ini," jelasnya. (duta.co)
Mandah Dalam rangka mendukung program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, Bhabinkamtibmas Desa Belaras, Kecamatan Mandah, K
Artikel
TEMBILAHAN Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Indragiri Hilir resmi melaksanakan tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajar
Artikel
TEMBILAHAN Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Indragiri Hilir resmi melaksanakan tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran
Artikel
TEMBILAHAN Malam yang semula berjalan tenang mendadak berubah mencekam ketika laporan darurat masuk melalui layanan 110 Polsek Kota Polres
Hukrim
(Pesisirnews.com) TEMBILAHAN Berada di penghujung Tahun 1447 H, Bupati Indragiri Hilir (Inhil) Herman, mengisinya dengan doa awal dan akhir
Advertorial
(Pesisirnews.com) TEMBILAHAN Demi meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan sehat, Pemerintah Daerah bersinergi dengan Tim
Advertorial
PELANGIRAN Upaya mendukung kesejahteraan petani terus dilakukan jajaran Polsek Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir. Tidak hanya berfo
Artikel
Tembilahan Dalam rangka mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergitas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Polre
Artikel
Tembilahan, (15/6/2026) Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menyambut kepulangan Jamaah Haji Kloter 11 asal Kabupaten Indragiri
Advertorial
Mandah Dalam rangka mendukung program swasembada ketahanan pangan nasional, Bhabinkamtibmas Desa Bakau Aceh melaksanakan kegiatan samban
Artikel