BOGOR-Riau
merupakan salah satu provinsi yang memiliki lahan gambut terluas di
Indonesia. Tanah gambut disebut terbentuk dari beragam akumulasi
sisa-sisa tanaman yang setengah membusuk, sehingga kandungan bahan-bahan
organiknya masih tinggi. Dalam istilah asing, tanah gambut disebut peat
land.
Penyebutan itu
didasarkan atas awal mula terbentuknya, yakni di lahan basah. Sejauh
ini, persoalan tanah gambut masih tetap diperdebatkan, terutama terkait
dengan bencana asap yang diduga berasal dari tanah gambut yang sejatinya
memang mudah terbakar.
"Untuk meminimalkan
hal tersebut, dibutuhkan tata kelola gambut yang baik dan benar.
Diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat tempatan yang
ditandai dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan hidup mereka,"
kata Gubernur Riau terpilih Syamsuar di hadapan peserta Seminar Nasional
Gambut 2018 yang ditaja Forum Mahasiswa Pascasarjana Riau (Fompasri)
Bogor, Sabtu (10/11/2018).
Bupati Siak ini juga
menyebut, tanah gambut Riau merupakan rahmat Allah SWT yang pantas
disyukuri. Dengan keunggulan yang dimiliki gambut, Syamsuar berharap ke
depannya Riau dapat dijadikan sebagai basis kajian gambut nasional
maupun internasional.
Terlepas dari
keunggulan spesifik yang dimiliki gambut, hal yang terus menjadi
perdebatan publik terkait dengan gambut itu sendiri bersumber sejak
adanya perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang
memanfaatkan tanah gambut sebagai perluasan wilayah tanam. Namun
Syamsuar tidak menampik, keberadaan perkebunan kelapa sawit dan HTI
dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah.
Di sisi lain, Prof
Sudirman menyebut, perkebunan sawit sejatinya bukan passionnya
masyarakat Melayu Riau. Karena jenis tanaman ini memerlukan perhatian
khusus, terutama dari perawatan dan pemetikkan buahnya yang dilakukan
secara berkelanjutan.
Terkait bencana
gambut berupa asap, Purwo Subekti menyebut, 99 persen kebakaran di
gambut disebabkan faktor kesengajaan. Namun, bukan masalahnya yang harus
diperdebatkan, resolusi penanganan kebakaran gambutlah yang harus
dipikirkan.
Dosen di Universitas
Pasir Pangaraian ini memaparkan, kebakaran gambut sebenarnya dapat
dicegah, sama halnya dengan kebakaran yang terjadi di hutan non gambut.
Tindakan pencegahan dimaksud adalah mengaktifkan peran serta masyarakat
tempatan, terkait dengan edukasi dan kegiatan nyata yang berhubungan
dengan pencegahan kebakaran gambut dimaksud.
Selanjutnya, membuat
sekat bakar, yakni berupa jurang, kolam, sungai ataupun parit-parit.
Namun jika kebakaran gambut terjadi, maka yang dapat dilakukan masyarkat
di sekitar gambut adalah memadamkan api.
Sebelumnya, Dewan
Pembina Fompasri Bogor Dr Roberdi MSi mengapresiasi kinerja panitia
pelaksana, mulai awal gagasan penyelenggaraan SNG 2018 sampai pada
akhirnya sukses memudahkan langkah peserta untuk datang, duduk dan
mendengarkan materi dari para narasumber.
Roberdi yang didaulat
membuka acara SNG 2018 menyampaikan terima kasih panitia pelaksana atas
kedatangan Gubernur Riau terpilih Syamsuar beserta narasumber lainnya.
Ketua Umum Fompasri
Bogor Syafroni Pranata SSi menyebut, sejatinya acara didukung penuh
pendanaannya oleh Badan Penghubung Provinsi Riau. Namun karena
terjadinya defisit anggaran, acara urung dilaksanakan. "Semula SNG 2018
akan dilaksanakan di Hotel IZI Kota Bogor, Riau defisit anggaran semua
kegiatan dibatalkan, termasuk SNG 2018. Namun panitia pelaksana tetap
kekeh agar SNG 2018 dilaksanakan, acara kita pindahkan ke gedung ini,"
kata Roni. (*)
sumber : fokusriau.com