Minggu, 16 Agustus 2026 WIB

Terancam Dibunuh di Negaranya, 3 WNA Somalia yang Diamankan Imigrasi Selatpanjang Tak Ingin Pulang

- Kamis, 23 Maret 2017 17:05 WIB
832 view
Terancam Dibunuh di Negaranya, 3 WNA Somalia yang Diamankan Imigrasi Selatpanjang Tak Ingin Pulang
foto : Rahmad
Ketiga WNA asal Somalia saat ditemui diminta keterangan pers di Kantor Imigrasi Selatpanjag, Jalan Merdeka, Selatpanjang.
SELATPANJANG -  Sudah memasuki hari kedua, tiga Warga Negara Asing (WNA) asal Somalia diinapkan ruangan khusus di Kantor Imigrasi Selatpanjang. Untuk sementara, mereka terpaksa diamankan lantaran telah secara ilegal memasuki wilayah jalur perbatasan Kepulauan Meranti, Indonesia.

Ketiga warga dari benua Afrika itu dikabarkan melarikan dari negaranya untuk mencari suaka ke Indonesia. Abdi Salan Elmi Ismail (21), pria dari satu diantara tiga warga Somalia itu ketika ditemui awak media di Kantor Imigrasi Selatpanjang, Kamis (23/3/2017) beralasan bahwa, di tanah kelahirannya sudah tidak aman lagi untuk menjamin kehidupan yang layak.

Bahkan, ia merasa terancam akan dibunuh akibat adanya konflik persaudaraan di negaranya, Somalia. Sehingga ia bertekad menanggung resiko keluar dari negaranya demi mencari suaka yang dapat memberikan kehidupan baru.

"I will be killed in Somalia (saya akan dibunuh di Somalia)," kata Abdi yang sedikit fasih dalam berbahasa inggris.

Begitu juga seorang perempuan bernama Sihaam (24) dan anak balitanya Amai Sarmake Omar (20 bulan). Sihaam mengaku mengalami kejadian serupa (terancam dibunuh) seperti apa yang dialami Abdi. Namun hal lainnya, perempuan muslim ini mendapat perlakuan tindakan kekerasan dari suaminya disaat konflik yang sedang memanas dinegaranya.

Imbasnya, anaknya Omar juga mendapat perlakuan serupa. Sihaam menunjukkan dibagian dahi kepala anaknya terdapat luka memar diduga akibat pukulan tangan dari suaminya, dan luka ringan dibagian tengah kepala.

Usai insiden itu terjadi, diakuinya saat ini suaminya yang juga merupakan warga Somalia ikut hengkang dari sana. Dikabarkan suaminya tersebut mencari suaka ke negeri tirai bambu, China.

Keluar dari negara Somalia, entah itu karena kemungkinan dalam waktu yang sama ketiga WNA itu akhirnya memutuskan terbang melalui jalur resmi menuju ke negeri Jiran, Malaysia. Tiba di Malaysia, Sihaam sempat mendatangi pusat fasilitas pelayanan kesehatan umum (rumah sakit) untuk berobat anaknya Omar akibat sakit.

Di rumah sakit, Sihaam tidak sanggup membiayai pengobatan anaknya. Sehingga sebagai jaminan, surat penting berupa dokumen paspor miliknya terpaksa ditahan oleh pihak rumah sakit.

Kemudian pada tanggal 21 maret 2017 mereka mengupayakan bisa berangkat dari Malaysia dengan tujuan ke Medan, Sumatera Utara, Indonesia tanpa dokumen yang resmi. Untuk menuju kesana, mereka ditawari untuk menumpang kapal oleh calo atas nama Ahmed (warga Malaysia), dengan upah US$2000.

Namun, sayangnya rencana dari Malaysia menuju ke Medan tidak sesuai dengan perjanjian awal. Upah yang ditarifkan olen calo itu hanya sampai di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Indonesia saja.

"Mereka pergi dari Malaysia dengan melalui calo atas nama Ahmed (warga Malaysia). Dia (Ahmed) itu meminta upah sebesar US$2000 per tiap kepala untuk menuju ke Medan," kata Kepala Imigrasi Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Tohadi SH MH dalam keterangannya.

Ketiga WNA ini, sambung Tohadi, dari Malaysia memasuki Indonsia menggunakan kapal kayu menuju Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Dari Merbau, ketiga warga Somalia dihantarkan menuju ke Selatpanjang oleh orang tak dikenal, dan dihentikan di pelabuhan Camat, Selatpanjang.

"Ketika melangkah menaiki kapal KM Jelatik dengan tujuan keberangkatan Pekanbaru, Provinsi Riau, aksinya dihadang oleh jajaran Imigrasi Selatpanjang tepat di Pelabuhan Camat Selatpanjang, Rabu (23/3) sekira pukul 14.00WIB," terangnya.

Saat diamankan pihak Imigrasi Selatpanjang, ketiga WNA itu menyatakan tidak ini kembali lagi ke negara asalnya. Pasalnya, jika mereka pulang akan terancam dibunuh dalam konflik persaudaraan yang tengah memanas. Kedatangan mereka ke Indonesia untuk mencari suaka melalui badan UNHCR di Medan.

"Mereka tak ingin pulang," ucap Tohadi, dari hasil keterangan sementara ketiga WNA Somalia itu.

Setelah pemeriksaan, Tohadi menjelaskan, nantinya akan menunggu instruksi dari pusat dan wilayah untuk dipindahkan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru. Biasanya untuk menangani imigran gelap akan diserahkan kepada United Nations High Commisioner for Refugess (UNHCR) dan International Organization of Migration (IOM).

"Nanti mereka (UNHCR dan IOM) memutuskan apakah imigran tersebut berhak mendapat suaka atau dikembalikan dinegara asal," sebut Tohadi. (mad)

SHARE:
beritaTerkait
Bupati Herman Kukuhkan Paskibraka Inhil 2026, Tekankan Kekompakan dan Kesiapan
Kapolda Riau Bawa Harapan ke Tepian Negeri, 3.600 Mangrove Bentengi Kuala Selat
Satlantas Polres Inhil Gelar Strong Point Pagi, Pastikan Arus Lalu Lintas Tetap Lancar dan Kondusif
Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman Karhutla di Dua Lokasi di Inhil
Kebakaran Rumah Terjadi di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan, Api Berhasil Dikendalikan
Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi
komentar
beritaTerbaru