Minggu, 16 Agustus 2026 WIB

Cerita Korban Tsunami Selat Sunda, Firasat Datang Lewat Bisikan

- Senin, 24 Desember 2018 19:05 WIB
702 view
Cerita Korban Tsunami Selat Sunda, Firasat Datang Lewat Bisikan
Sebuah mini bus yang menghantam rumah usai diterjang tsuna

Pesisirnews.com - Tangerang Selatan - Di antara wisatawan korban tsunami Selat Sunda adalah pasangan suami istri asal Ciputat, Tangerang Selatan, yakni Chattra Mahottama dan Afrian Syafitri. AfrianSyafitri, 26, tewas, sedang Chattra luka-luka digulung gelombang laut yang datang tiba-tiba pada Sabtu malam, 22 Desember 2018.

"Mereka mengunjungi villa keluarga di Pantai Carita di Pandeglang, Banten," kata Abdul Hamid, ayah dari Afrian Syafitri, ketika ditemui di rumah duka di Perumahan Bukit Nusa Indah, Ciputat, Minggu malam 23 Desember 2018.

Menurut Hamid, ia menerima kabar tersebut saat berada di Batam, Kepulauan Riau. Dia langsung bergegas datang ke rumah di Bukit Nusa Indah, Jalan Jati, Rt 05 Rw 016, Kelurahan Serua, Ciputat, segera setelah menerima kabar itu.

Baca Juga:

Hamid bergegas karena setelah beberapa hari sebelum ada kabar itu dirinya sudah resah. Sejumlah firasat buruk menghampirinya begitu tahu anaknya pergi liburan. "Firasat pertama saya tidak mau sarapan, enggak bisa tidur cepat dan perasaan lemas, pikiran tidak ada tujuan," ujarnya.

Hamid juga mengatakan, terdapat firasat yang membuatnya bertanya-tanya. Yakni selepas pulang kerja di Batam, sedang mengendarai motor, ia mendengar suara Syafitri seperti berbisik memanggil dirinya, 'Ayah'.

Baca Juga:

"Setelah mendengar suara anak saya, kemudian saya pinggirkan motor, menoleh kanan kiri tidak ada orang, tapi saya tahu betul itu suara Syafitri. Saya berpikir ada apa?" katanya becerita dengan mata berkaca- kaca.

Menurut Hamid, Syafitri berencana untuk pulang ke Batam menemui keponakannya. Kepada Hamid, Syafitri mengatakan ingin sekali menggendong keponakannya yang masih berumur tiga bulan. Pada saat itu pun, ketika melakukan komunikasi lewat video, Hamid sudah resah.

Warga berada di depan bangunan yang terdampak bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Ahad, 23 Desember 2018. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan setidaknya 222 orang meninggal, 500 lebih orang terluka dan puluhan lainnya dinyatakan hilang. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay


"Di lihat wajahnya lain, mukanya beda seperti kemerahan tapi bersih seperti bersinar gitu," ujarnya.

Hamid mengenang putrinya itu sebagai pribadi yang supel dan tidak pernah membantah orang tua. Syafitri adalah anak kedua Hamid. "Anaknya sangat baik, enggak neko-neko," katanya yang tidak pernah menduga sang putri akan menjadi korbantsunami.

Sumber
: Tempo.co
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Sambut HAN 2026, Pesan Menteri Imipas Agus dan KSP Dudung ke Anak Binaan "Masa Depan Kalian Masih Cerah".
Persiapan Peringatan Hari Anak Nasional 2026 Mulai Dibahas
Grand Final Joged Mande Jadi Puncak Peringatan Hari Anak Nasional di Inhil
Bunda Paud Inhil Katerina Susanti Buka Lomba Kolase Pada Hari Anak Nasional 2026
UMKM Inhil Unjuk Gigi di Puncak HUT Dekranas ke-46, Produk Kriya, Wastra, dan Kuliner Tampil di Tingkat Nasional
Siswi SMA N 1 Kritang Kab Inhil Lolos Seleksi Paskibraka Nasional
komentar
beritaTerbaru