Bupati Herman Kukuhkan Paskibraka Inhil 2026, Tekankan Kekompakan dan Kesiapan
Tembilahan, (16/8/2026) Bupati Indragiri Hilir (Inhil) Herman secara resmi mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabu
Artikel
Pesisirnews.com-Keberadaan guru honorer atau PTT memang menyisakan beragam cerita di negeri ini. Mulai dari susahnya naik jabatan menjadi PNS, hingga masalah honor yang perbandingannya bak bumi dan langit. Miris memang, namun itulah kenyataan yang terjadi pada saat ini. Pemerintah pun seolah tak sanggup lagi mengurus keberadaan mereka.
Seolah tersisih dari dunia pendidikan, para pahlawan tanpa tanda jasa itu harus berjuang seorang diri di tengah ketidakpastian. Bimbang memilih antara kebutuhan hidup yang semakin mendesak dan kewajibannya sebagai seorang pendidik. Beberapa kisah perjuangan mereka di bawah ini, menunjukan betapa kerasnya dan susahnya mengarungi hidup sebagai guru honorer.
Baca Juga:

Mengajar di daerah terpencil merupakan tantangan tersendiri bagi para guru. Terlebih oleh mereka yang statusnya masih honorer alias tidak tetap. Meski penuh dengan resiko dan ketidakpastian, tak ada pilihan lain kecuali tetap mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Salah satunya yang terjadi pada guru bernama Mardiana Juana Poduloya. Dilansir dari news.okezone.com, pengajar di SD Masehi Kapunduk, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, ini sudah mengabdi selama 13 tahun dengan gaji hanya Rp 300 ribu per bulan. Meski berhasil meraih ijazah S-1 lewat kuliah jarak jauh, mimpinya untuk menjadi PNS masih jauh dari harapan.
Baca Juga:

Tak hanya di daerah pelosok, kisah miris lainnya justru terjadi di kota besar seperti Surabaya. Adalah sosok Moch Hamzah Rifwan, guru Pendidikan Agama Islam yang mengajar di SMK Negeri 2, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dilansir dariregional.kompas.com, dirinya kebingungan karena adanya Pelimpahan wewenang pengelolaan SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota ke provinsi. Alhasil gajinya sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) pun menjadi tak menentu. Bahkan, dirinya berencana untuk jualan es tebu demi menjaga agar dapurnya tetap berasap.

Lain masalah Hamzah di atas, berbeda pula dengan yang dialami oleh Rosi Hanafi yang masih rekan sesama guru honorer. Dilansir dari regional.kompas.com, pria yang juga berprofesi sebagai tenaga pengajar honorer ini, mengaku kebingungan lantaran gajinya bakal tak menentu seiring adanya ketetapan pelimpahan wewenang. Padahal, dirinya telah melamar sang kekasih untuk segera dinikahi. Sementara uang tabungan yang dikumpulkannya, bakal terkuras jika gaji rutin bulanannya tak lagi menentu.

Entah sampai kapan Samiyati harus menunggu agar dirinya diangkat statusnya menjadi PNS. 20 tahun lamanya ia berbakti sebagai tenaga pendidik, namun nasibnya tak kunjung membaik. Dilansir dariregional.kompas.com, gajinya yang berkisar Rp 300 ribu hingg Rp 500 ribu, membuat Samiyati harus pontang-panting menghidupi ketiga anaknya. Saking susahnya, ia kerap menggadaikan sepeda motor sekedar untuk menutup biaya kebutuhan sehari-hari hingga tak mampu membeli sepatu. Perempuan 40 tahun ini bahkan rela memakai sepatu lamanya yang usang dengan kondisi lem terkelupas pada beberapa bagian.

Selain beragam peraturan yang terkadang menyudutkan posisi mereka sebagai guru honorer, masalah gaji kerap menjadi sebuah bahasan yang entah sampai kapan akan berakhir. Dilansir dari finance.detik.com, Ketua Umum Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I), Titi Purwaningsih mengatakan, rata-rata gaji guru honorer di daerah di bawah Rp 500 ribu per bulan dan tidak dibayarkan secara rutin. Yang lebih fenomenal lagi adalah sosok guru cantik yang bernama Fitria Pinasti. Dilansir dari plus.kapanlagi.com, tenaga pendidik di sebuah sekolah itu bahkan hanya mendapat gaji sebesar Rp 150 ribu. Tidak masuk akal, tapi memang itulah kenyataan yang ada,
Padahal, menjalani profesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa merupakan tugas mulia yang belum tentu bisa dilakukan sembarang orang. Perlu ketelatenan, pengabdian dan ketulusan dalam menjalaninya. Sayang, pemerintah masih belum paham. Bahwa keberadaan mereka, juga ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Sumber:Bombastis.com
Tembilahan, (16/8/2026) Bupati Indragiri Hilir (Inhil) Herman secara resmi mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabu
Artikel
KATEMAN, Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau digelar di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, S
Artikel
TEMBILAHAN Satuan Lalu Lintas Polres Indragiri Hilir melaksanakan kegiatan pengaturan lalu lintas dan strong point pagi di sejumlah titi
Artikel
Indragiri Hilir Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Indragiri Hilir mulai terjadi sejak 11 Agustus 2026. Hingga Kamis, 13 Ag
Lingkungan
TEMBILAHAN Kebakaran terjadi pada sebuah rumah warga di Jalan Tanjung Harapan, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Kamis (1
Artikel
INDRAGIRI HILIR Polres Indragiri Hilir menggelar Apel Pergeseran Tim Ekspedisi Merah Putih Presisi menuju Desa Kuala Selat, Kecamatan Ka
Artikel
INDRAGIRI HILIR Polres Indragiri Hilir menggelar Apel Pergeseran Tim Ekspedisi Merah Putih Presisi menuju Desa Kuala Selat, Kecamatan Ka
Artikel
Tembilahan, (12/8/2026) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Yasin AlIslami tidak sekadar menjadi agenda
Artikel
JAKARTA Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung fasilitas Sekolah Rakyat (SR) DKI Jakarta yang telah diselesaikan p
Artikel
(Pesisirnews.com)Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Herman, melakukan upaya jemput bola untuk mengakselerasi kemajuan dan kesejahteraan masya
Artikel