Operasi Gabungan Bareskrim Polri dan Polda Riau, 68 Orang Diamankan di Tempat Hiburan Malam Pekanbaru
PEKANBARU Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau menggelar operasi gabungan di sala
Hukrim
Pesisirnews.com-Keberadaan guru honorer atau PTT memang menyisakan beragam cerita di negeri ini. Mulai dari susahnya naik jabatan menjadi PNS, hingga masalah honor yang perbandingannya bak bumi dan langit. Miris memang, namun itulah kenyataan yang terjadi pada saat ini. Pemerintah pun seolah tak sanggup lagi mengurus keberadaan mereka.
Seolah tersisih dari dunia pendidikan, para pahlawan tanpa tanda jasa itu harus berjuang seorang diri di tengah ketidakpastian. Bimbang memilih antara kebutuhan hidup yang semakin mendesak dan kewajibannya sebagai seorang pendidik. Beberapa kisah perjuangan mereka di bawah ini, menunjukan betapa kerasnya dan susahnya mengarungi hidup sebagai guru honorer.
Baca Juga:

Mengajar di daerah terpencil merupakan tantangan tersendiri bagi para guru. Terlebih oleh mereka yang statusnya masih honorer alias tidak tetap. Meski penuh dengan resiko dan ketidakpastian, tak ada pilihan lain kecuali tetap mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Salah satunya yang terjadi pada guru bernama Mardiana Juana Poduloya. Dilansir dari news.okezone.com, pengajar di SD Masehi Kapunduk, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, ini sudah mengabdi selama 13 tahun dengan gaji hanya Rp 300 ribu per bulan. Meski berhasil meraih ijazah S-1 lewat kuliah jarak jauh, mimpinya untuk menjadi PNS masih jauh dari harapan.
Baca Juga:

Tak hanya di daerah pelosok, kisah miris lainnya justru terjadi di kota besar seperti Surabaya. Adalah sosok Moch Hamzah Rifwan, guru Pendidikan Agama Islam yang mengajar di SMK Negeri 2, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dilansir dariregional.kompas.com, dirinya kebingungan karena adanya Pelimpahan wewenang pengelolaan SMA/SMK dari pemerintah kabupaten/kota ke provinsi. Alhasil gajinya sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) pun menjadi tak menentu. Bahkan, dirinya berencana untuk jualan es tebu demi menjaga agar dapurnya tetap berasap.

Lain masalah Hamzah di atas, berbeda pula dengan yang dialami oleh Rosi Hanafi yang masih rekan sesama guru honorer. Dilansir dari regional.kompas.com, pria yang juga berprofesi sebagai tenaga pengajar honorer ini, mengaku kebingungan lantaran gajinya bakal tak menentu seiring adanya ketetapan pelimpahan wewenang. Padahal, dirinya telah melamar sang kekasih untuk segera dinikahi. Sementara uang tabungan yang dikumpulkannya, bakal terkuras jika gaji rutin bulanannya tak lagi menentu.

Entah sampai kapan Samiyati harus menunggu agar dirinya diangkat statusnya menjadi PNS. 20 tahun lamanya ia berbakti sebagai tenaga pendidik, namun nasibnya tak kunjung membaik. Dilansir dariregional.kompas.com, gajinya yang berkisar Rp 300 ribu hingg Rp 500 ribu, membuat Samiyati harus pontang-panting menghidupi ketiga anaknya. Saking susahnya, ia kerap menggadaikan sepeda motor sekedar untuk menutup biaya kebutuhan sehari-hari hingga tak mampu membeli sepatu. Perempuan 40 tahun ini bahkan rela memakai sepatu lamanya yang usang dengan kondisi lem terkelupas pada beberapa bagian.

Selain beragam peraturan yang terkadang menyudutkan posisi mereka sebagai guru honorer, masalah gaji kerap menjadi sebuah bahasan yang entah sampai kapan akan berakhir. Dilansir dari finance.detik.com, Ketua Umum Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I), Titi Purwaningsih mengatakan, rata-rata gaji guru honorer di daerah di bawah Rp 500 ribu per bulan dan tidak dibayarkan secara rutin. Yang lebih fenomenal lagi adalah sosok guru cantik yang bernama Fitria Pinasti. Dilansir dari plus.kapanlagi.com, tenaga pendidik di sebuah sekolah itu bahkan hanya mendapat gaji sebesar Rp 150 ribu. Tidak masuk akal, tapi memang itulah kenyataan yang ada,
Padahal, menjalani profesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa merupakan tugas mulia yang belum tentu bisa dilakukan sembarang orang. Perlu ketelatenan, pengabdian dan ketulusan dalam menjalaninya. Sayang, pemerintah masih belum paham. Bahwa keberadaan mereka, juga ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Sumber:Bombastis.com
PEKANBARU Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau menggelar operasi gabungan di sala
Hukrim
TEMBILAHAN Penanganan stunting di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus didorong melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pem
Berita
Tempuling, (7/10/2026) Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Herman, resmi membuka Santri Expo Tahun 2026 yang digelar Pondok Pesantren (Ponpes)
Berita
TEMBILAHAN Satuan Reserse Narkoba Polres Indragiri Hilir (Inhil) mengungkap dugaan tindak pidana peredaran narkotika jenis sabu di wilay
Hukrim
TEMBILAHAN Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun 2026 di Kabupaten Indragiri Hilir (Inh
Berita
TEMBILAHAN Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun 2026 di Kabupaten Indragiri Hilir (Inh
Artikel
MANDAH Pembangunan jerambah beton yang menghubungkan Kelurahan Khairiah Mandah dengan Desa Igal, Kecamatan Mandah, menjadi perhatian Pem
Berita
Jakarta Komjen Herry Heryawan resmi mengemban amanah baru sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri setelah dilantik d
Artikel
KERITANG Polres Indragiri Hilir (Inhil) melakukan pengamanan dan pendampingan kegiatan ekshumasi atau penggalian kembali jenazah almarhu
Peristiwa
INDRAGIRI HILIR, Kapolres Indragiri Hilir (Inhil) AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., mengajak masyarakat tetap tenang menyikapi
Artikel