Jumat, 05 Juni 2026 WIB

"Awas" Indonesia Jadi Target Penyadapan Asing

- Selasa, 10 Maret 2015 21:56 WIB
920 view
PESISIRNEWS.COM - Pasca penolakan pertukaran narapidana oleh Jokowi, berhembus kabar bahwa Wikileaks akan mengungkap penyadapan Australia terhadap Jokowi. Usaha tersebut dinilai oleh banyak pihak, sebagai bentuk untuk menyelamatkan duo "Bali Nine" yang akan segera dieksekusi mati.

"Dengan segala potensi yang ada, Indonesia jelas menjadi target penyadapan bagi negara lain. Apalagi, provider yang ada di Indonesia tidak sepenuhnya milik usaha dalam negeri dan satelit pun masih menyewa asing. Jangan pernah meremehkan kepemilikan asing di sektor strategis, terutama telekomunikasi dan informasi," Ungkap Pratama yang pernah menjadi Ketua Tim IT Lembaga Sandi Negara untuk Kepresidenan, Selasa (10/3/2015) di Semarang.

Menurutnya, semua komunikasi lewat udara (over the air), apalagi lewat kabel bisa disadap. Penyadapan lewat provider bisa dilakukan dengan sangat mudah. Pasalnya, teknologi enkripsi yang digunakan sangat standar yakni jaringan GSM A51 untuk 3G dan GSM A52 untuk 2G.

"Karena teknologi GSM sangat standar, jadi mudah disadap sehingga mungkin juga penyadapan dilakukan pihak lain tanpa sepengetahuan operator. Wajar kalau operator menegaskan bantahannya terkait isu penyadapan ini," kata Pratama.

Ketua Communication & Information System Security Research Center (CISSRec), Pratama Persada, mengungkapkan Indonesia masih sangat ketinggalan dalam hal sadap menyadap dan antisipasinya untuk kepentingan nasional.Lebih jauh Ia mengatakan, semua negara pasti akan melakukan usaha penyadapan untuk memastikan kepentingan nasionalnya.

Untuk itu pihaknya menilai, upaya yang tepat untuk mengcounter tindakan tersebut ialah dengan menggunakan tekhnologi enkrpsi yang canggih. Selain itu, pemerintah juga dipandang perlu meningkatkan pengamanan pada wilayah-wilayah yang dianggap strategis.

Saat ini, terdapat alat sadap yang memiliki jangkauan 2 kilometer lebih. Oleh kerena itu, pemerintah harus peka terhadap hal itu, sehingga pemerintah diharapkan mampu mensterilisasi kawasan-kawasan strategis, seperti Istana Negara. Jangan sampai ada pihak yang dengan mudah menaruh alat sadap di sekitar wilayah tersebut.

Dirinya juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang mengijinkan negara asing membuka kantor kedutaan di dekat istana negara. Dalam pandangan intelejen, kita wajib curiga pada siapapun yang berpotensi mencuri informasi dari kita, termasuk kedubes negara asing.
Lokasi Kedubes AS yang dekat istana, bisa saja untuk melakukan penyadapan ke seluruh area strategis yang ada di Jakarta," Ungkap Pratama.

Sumber : Liputan6.com
Editor    : Bayuku

SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru