Di daerah seperti Lapland, puasa bisa berlangsung selama 23 jam
Harga seikat kangkung di Finlandia bisa mencapai Rp52 ribu
Finlandia adalah negara dengan iklim ekstrem. Ketika musim panas
tiba, matahari bisa bersinar antara 21 hingga 23 jam dalam sehari.
Artinya, puasa Ramadan jadi amat panjang. Rika Melissa mengisahkan
pengalamannya berpuasa di Finlandia.
tirto.id
-
Menjalani puasa Ramadan di Finlandia bukan pekerjaan mudah. Pasalnya,
negara Skadinavia ini punya musim yang sama-sama ekstrem karena berada
dalam zona boreal. Karakteristik iklim di kawasan ini adalah hangat
ketika musim panas dan bikin badan beku kala musim dingin. Di daerah
paling utara seperti Lapland, musim dingin bisa berlangsung selama 7
bulan dan suhu bisa turun drastis hingga -45 celsius. Pada 2012, di
Lapland, matahari tidak terbit selama 51 hari.
Namun, ketika
musim panas tiba, matahari seolah enggan terbenam. Finnish
Meteorological Institute pada 2012 mengatakan matahari tidak terbenam
selama 73 hari berturut-turut di daerah utara Finlandia. Lalu bagaimana
dengan puasa Ramadan di Finlandia?
Menurut Rika Melissa, puasa
Ramadan tahun ini berlangsung tepat di puncak musim panas. Puasanya jadi
panjang, sekitar 20-21 jam. Rika adalah satu dari dua warga Indonesia
yang tinggal di Kerava, sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 30.000
orang.
"Dengan BSD saja masih kalah besar," kelakar Rika.
Kerava
masih termasuk dalam pääkaupunkiseutu atau daerah ibu kota Helsinki
Greater Area. Jika naik kereta, pusat kota Helsinki bisa ditempuh dalam
waktu 25 menit.
Rika pindah ke Finlandia pada 2010. Saat itu ia
sedang hamil anak pertama. Suasana Ramadan di Finlandia tentu amat
berbeda dengan Indonesia. "Ada banyak banget yang saya rindukan dari
Ramadan di Indonesia!" kata Rika.
Hal-hal kecil justru sekarang
jadi terasa berarti. Mulai dari tayangan azan Magrib di teve, suara azan
dari masjid melalui TOA, hingga wajah-wajah bersemangat menyambut
Magrib. Ketika tinggal di Indonesia, Rika suka sekali tarawih di masjid.
"Suasana
tarawih di Indonesia menyenangkan sekali buat saya. Khidmat tapi
gembira. Ada banyak anak-anak berlarian di masjid, juga banyak tukang
jajanan berdagang di halaman masjid," ujarnya.
Di Kerava,
suasananya jauh dari hiruk-pikuk. Karena tak ada masjid, Rika salat
tarawih di rumah. Sebenarnya untuk mencari suasana khas Indonesia, Rika
bisa datang ke KBRI di Helsinki. Di sana, para warga Indonesia
mengadakan acara buka bersama setiap Sabtu malam. Masalahnya, jadwal
berbuka puasa biasanya pukul 10:20 malam. Acara baru usai selepas salat
Subuh pukul 2 pagi. Karena itu, Rika tak bisa sering ke sana.
"Kendaraan umum untuk balik ke Kerava sudah langka sekali jam segitu," ujar ibu dua anak ini.
Suasana
ini sedikit berbeda ketika Rika tinggal di Jerman pada 2002. Saat itu
Rika menjadi mahasiswa S2 Psikologi di Ludwig Maximillians Universität,
Munich. Selepas lulus, Rika melanjutkan berbagai program magang. Total,
Rika tinggal di Jerman selama 4 tahun.
Di Jerman, populasi
mahasiswa Indonesia cukup banyak. Apalagi di kota besar seperti Munich.
Rika juga punya banyak kawan akrab sesama mahasiswa Indonesia. Mereka
sering mengadakan acara buka bersama. Saat itu puasa Ramadan berlangsung
di musim dingin, yang membuat matahari lebih cepat terbenam. Di
Finlandia, karena sejak 2014 Ramadan datang di musim panas, buka puasa
berlangsung saat larut malam. Hal ini membuat acara buka bersama jadi
lebih sukar dilakukan.
Beberapa waktu lalu,
Independent menurunkan laporan berjudul "
How Muslim Fast in Countries Where the Sun Never Sets".
Salah satu narasumbernya adalah Mohammed, seorang pekerja asal
Bangladesh yang tinggal di Lapland. Menurutnya, puasa dimulai pada 01.35
saat azan Subuh berkumandang. Mereka akan berbuka puasa pada 00.48
keesokan harinya.
"Jadi puasanya berlangsung selama 23 jam 5 menit," ujarnya.
Rika
punya 2 orang anak lelaki, Kai dan Sami. Sang ibu sering menulis
tingkah polah lucu nan menggemaskan kedua anaknya di blog. Rika
mengajarkan tentang puasa pada Kai dan Sami. Saat ini Kai berusia 6,5
tahun. Di sekolahnya ada guru agama Islam, yang juga mengajari Kai
tentang puasa.
"Sebenarnya mereka takut dan sungkan untuk
berpuasa. Kata mereka: kami takut lapar padahal anak kecil, kan, lapar
terus-terusan dan butuh makanan buat tumbuh besar," kata Rika. Kai mulai
rutin ikut puasa tahun ini. Ia puasa hingga jam makan siang sekolah.
Tinggal
di Finlandia juga menjauhkan Rika dari ciri khas Ramadan di Indonesia:
Aneka ria kudapan, makanan, juga minuman. Ketika puasa datang, ibunda
Rika rajin membuat tape ketan hitam, juga rajin sekali membeli bubur
jongkong dan bubur kampiun. Kolak pisang juga terhitung amat sering
hadir. Minuman yang juga hanya dibuat ketika Ramadan adalah es timun.
"Biasanya orang lain pakai timun suri, tapi ibu saya lebih suka pakai serutan timun biasa yang
dicemplungin ke dalam jus jeruk. Kadang dicampur dengan potongan mangga manis. Segar sekali," kata Rika.
Saat
puasa juga, biasanya Ibunda Rika memasang rendang dalam jumlah banyak.
Ini soal kepraktisan. Rendang adalah jenis lauk yang tahan lama,
sehingga Ibunda Rika tak perlu repot memasak. Saking seringnya makan
rendang, pernah dalam suatu masa Rika trauma dengan rendang. "Baru
setelah di Jerman saya jadi sering kangen makanan Indonesia lagi."
Jauh
dari Indonesia membuat Rika merindukan tumis kangkung buatan sang Ibu.
Tumis kangkung adalah sayuran yang amat mudah dibuat, begitu pula
bahannya. Bisa dibilang tumis kangkung adalah semacam
comfort food
bagi orang Indonesia. Ia enak disantap kapan saja. Sarapan, oke. Makan
siang, mantap. Untuk makan malam pun ayo saja. Namun Rika terpaksa
menahan keinginannya untuk menyantap tumis kangkung sering-sering.
Pasalnya,
harga kangkung amat mahal di Finlandia. Satu ikat bisa mencapai 3,5
Euro atau sekitar Rp52 ribu. Padahal di Indonesia, dengan Rp5 ribu saja,
kamu bisa pesta kangkung. Apa boleh buat, keinginan itu harus dipendam.
Rika
sering memasak untuk buka puasa. Untungnya, Mikko, suaminya, memang
pencinta makanan Indonesia. Ia amat menggemari masakan Minang. Sekarang
suaminya sedang menggilai masakan Sunda.
"Tapi apa pun masakan dari Indonesia, Mikko hampir selalu suka," kata Rika.
Tinggal
di daerah berjarak ribuan kilometer dari Indonesia, membuat Rika
belajar tentang kerinduan akan kampung halaman. Dulu sewaktu tinggal di
Indonesia, Rika mengaku heran melihat orang-orang rela membayar tiket
mahal demi pulang kampung, atau rela menempuh macet puluhan jam demi
mudik Lebaran.
"Sekarang, di Finlandia, saya jadi mengerti sekali
betapa pentingnya pulang kampung di masa Ramadan dan Lebaran. Saya jadi
galau berat dan sering mewek kalau lebaran enggak bisa mudik ke
Indonesia."
Tapi tahun ini Rika tak akan mewek. Minggu ini
keluarga kecilnya akan mudik ke Indonesia. Mereka juga akan berencana
mengikutkan Kai dan Sami dalam sahur dan mengajak mereka berpuasa
semampunya. Sudah pasti juga Rika bisa salat Tarawih di masjid,
mendengar azan dari TOA masjid, dan tentu saja: menyantap tumis kangkung
kesukaannya dan sepuasnya.[rls/tirto.co.id]