Secara global, sekitar 44 persen kematian terjadi pada mereka yang berusia di bawah 70 tahun
Mengonsumsi alkohol secara berlebihan menjadi salah satu pendorong kematian dini pada kelompok usia 15-49 tahun
Kematian dini memang disebabkan oleh beberapa penyakit, namun
penyakit-penyakit tersebut adalah wujud dari kebiasaan buruk yang
dilakukan setiap hari.
tirto.id
-
"Panjang umur dan sehat selalu ya."
Doa itu umumnya selalu ada
dalam ucapan selamat ulang tahun. Memiliki umur yang panjang memang
keinginan dan harapan banyak orang. Namun, harapan juga mesti dibarengi
dengan upaya, salah satunya menghindari kebiasaan buruk yang dapat
mendorong kematian dini.
Menurut pengertian dari Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), kematian dini adalah kematian yang terjadi pada
mereka yang berusia di bawah 70-75 tahun. Kematian itu dapat disebabkan
oleh banyak hal.
WHO mencatat
pada 2015 ada sebanyak 29 persen kematian di negara berkembang terjadi
pada penduduk yang berusia di bawah 60 tahun. Sedangkan ada 48 persen
dari total kematian terjadi pada mereka yang berada di usia 70 tahun.
Di negara maju, ada sekitar 26 persen kematian terjadi pada mereka yang berada di bawah 60 tahun. Jika
dilihat secara global, menurut data WHO, sekitar 44 persen kematian
terjadi pada mereka yang berada pada usia di bawah 70 tahun. Penyakit
jantung adalah penyumbang kematian dini pada penduduk dunia.
Persentasenya mencapai 39 persen. Kanker berada di urutan kedua,
angkanya 27 persen.
Penyebab lainnya yang juga memicu kematian
dini adalah penyakit pernapasan kronis, gangguan pada saluran
pencernaan, beberapa penyakit menular hingga diabetes. Dalam data WHO
lainnya, beberapa penyakit ini juga menjadi pembunuh utama masyarakat
dunia.
Kematian dini sesungguhnya bukanlah hal yang terjadi
secara spontan sampai berakibat kematian. Menurut beberapa penelitian,
akar permasalahan kematian dini adalah kebiasaan buruk kita. Beberapa
kebiasaan buruk itu misalnya mengkonsumsi alkohol. Minuman beralkohol
sangat mudah ditemui dalam berbagai kemasan, dari yang kadarnya 2 persen
hingga lebih dari 20 persen.
Menurut laporan
National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism,
kebiasaan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan menjadi salah satu
pendorong kematian dini bagi penduduk dunia pada kelompok usia 15-49
tahun. Amerika Serikat termasuk dalam negara yang banyak terjadi
kematian dini karena konsumsi alkohol secara berlebihan.
Konsumsi alkohol yang berlebihan di Amerika Serikat menyebabkan 1 dari
10 kematian termasuk dalam kematian dini, menurut laporan
Centres for Disease Control and Prevention (CDC). Jumlah yang meninggal karena alkohol sebanyak 88 ribu yang rata-rata meninggal pada usia 30 tahun.
Kebiasaan mengonsumsi alkohol yang berlebihan juga terjadi di
Slowakia
dan menjadi pemicu utama kematian dini serta tindakan kekerasan di
negara tersebut. Para peneliti dari Jessenius Medival Faculty dari
Comenius University di Slowakia Utara menemukan jika adanya risiko
meningkatkan sikap menjadi agresif ketika mabuk akibat berada dalam
kendali alkohol. Mereka yang mabuk kadang melakukan bunuh diri atau
menjadi korban pembunuhan.
Selain alkohol, ada juga kebiasaan mengonsumsi kopi secara berlebihan
yang dianggap mendorong terjadinya kematian dini. Meminum lebih dari
empat cangkir kopi sehari dapat meningkatkan risiko kematian dini akibat
timbulnya sejumlah penyakit.
Para peneliti Paman Sam menemukan bahwa terjadi peningkatan pada jumlah orang yang berusia di bawah 55 tahun dan memiliki
kebiasaan meminum kopi
lebih dari 28 cangkir. Kopi memang erat dengan kesehatan karena dapat
menyebabkan tekanan darah tinggi, mengubah aktivitas adrenalin dan
insulin dalam tubuh.
Kebiasaan lainnya yang memengaruhi sehingga terjadinya kematian dini
adalah pola makan dan diet. Kelebihan atau kekurangan konsumsi makanan
dapat menyebabkan kardiometabolik yang membuat orang rentan diserang
penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Hal itu selaras dengan
penelitian yang diterbitkan dalam
Journal of American Medical Association yang
menunjukkan bahwa 45,4 persen kematian terkait kebiasaan pola makan
disebabkan penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Terlalu
banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak garam atau terlalu
asin menyebabkan 9,5 persen kematian. Kurang mengonsumsi buah juga
berisiko terkena kardiometabolik. Oleh sebab itu, kita direkomendasikan
agar mengonsumsi buah setiap harinya.
Memakan sayuran juga
sangat diperlukan. Menurut penelitian tersebut, kurang makan sayur
membuat kita rentan diserang penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe
2 yang kemudian menjadi pendorong terjadinya kematian sebanyak 7,6
persen dari total kematian.
Makanan lainnya yang memengaruhi
kesehatan kita adalah, kita juga harus mengonsumsi kacang-kacangan
karena tinggi protein. Makanan laut juga sangat disarankan untuk
dikonsumsi secukupnya karena kaya akan omega-3.
Tak hanya
makanan, kebiasaan kita meminum minuman kemasan tanpa melihat komposisi
gula dalam minuman tersebut juga dapat menjadi pemicu timbulnya berbagai
penyakit yang berujung pada kematian. Banyak minuman kemasan mengandung
kadar gula yang tinggi.
Kaum Adam menjadi korban terbanyak
dalam hal kematian dini karena pola makan dan minum yang tak sehat.
Lebih banyak laki-laki yang tidak memperhatikan kandungan gizi dalam
makanan dan minuman yang mereka konsumsi, dibandingkan kaum hawa.
Penemuan lain dari para peneliti soal kematian dini adalah bahwa
kesepian yang dirasakan seseorang juga dapat memicu kematian dini.
Profesor John Cacioppo dari University of Chicago menghabiskan 21 tahun
untuk mempelajari terkait penyebab dan dampak dari kesepian yang ia
tuangkan dalam bukunya berjudul
Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection.
"Kesepian kronis dapat meningkatkan kematian dini sebesar 20 persen.
Jumlah tersebut hampir setara dengan penyebab kematian karena obesitas,"
kata Cacioppo dalam wawancara khusus dengan
The Guardian.
Cacioppo kemudian menjelaskan relasi antara kematian dan dini dan
kesepian. Seseorang yang merasa kesepian akan mengalami gangguan tidur
sehingga mengurangi efektivitasnya. Ia akan memiliki fragmentasi tidur
dan selalu terbangun dengan tubuh yang terasa lelah.
Selain
itu, dalam kesepian, tingkat kesedihan seseorang akan sangat besar
dibandingkan jika ia bersedih dalam keadaan tak sendirian atau kesepian.
Kesepian secara tak langsung memang menyebabkan timbulnya suatu
penyakit misalnya penyakit jantung dan lainnya, akan tetapi menurut
Cacioppa, efek dari kesepian akan terlihat pada sistem kekebalan tubuh
yang akan menurun. Hal inilah yang kemudian membuat orang rentan
diserang berbagai macam penyakit yang berujung pada kematian dini. [rls/tirto.co.id]