Jumat, 28 Agustus 2026 WIB

Kena Dampak Rupiah Loyo, Pengrajin Tempe Bekasi Kurangi Produksi

Haikal - Minggu, 09 September 2018 17:16 WIB
351 view
Kena Dampak Rupiah Loyo, Pengrajin Tempe Bekasi Kurangi Produksi
Ilustrasi gambar
Pesisirnews.com-Bekasi - Sejumlah pengrajin tempe di Bekasi, Jawa Barat, terkena dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sejak beberapa pekan terakhir. Bahkan, sebagian pengrajin mengurangi produksinya.

Harga kedelai naik, imbas nilai tukar dolar naik," kata pengrajin tempe di Desa Setia Mekar, Tambun Selatan, Bekasi, Toni, Ahad, 9 September 2018.

Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 14.884 pada Jumat, 7 September 2018.

Harga kedelai per kilogram, kata dia, kini mencapai Rp 8.000 di pasaran. Padahal sebelumnya hanya Rp 7.500. Menurut dia, kenaikan harga itu secara bertahap mulai Rp 100-200. Sebabnya, kedelai didatangkan dari luar negeri yang menggunakan dolar AS sebagai alat transaksi.

Baca Juga:

Toni mengatakan, sebulan lalu bisa memproduksi tempe dengan bahan baku kedelai hingga 1,5 kuintal. Namun, kini dia terpaksa mengurangi produksinya hingga 50 kilogram atau hanya memproduksi dengan bahan baku 1 kuintal. "Kami juga terpaksa mengurangi ukuran," ujar Toni.

Biasanya satu potong tempe mempunyai berat lima ons, kini berkurang menjadi sekitar 4,5 ons. Hal ini bagian dari siasat agar keuntungan tidak berkurang. Soalnya, jika ikut menaikkan harga tempe, khawatir pembeli akan berteriak.

Baca Juga:

Berbeda dengan Toni, pedagang tempe di Margahayu, Bekasi Timur tak mengurangi ukuran tempe atau menaikkan harga. Mereka memilih mengambil resiko dengan mengambil keuntungan lebih kecil dibanding biasanya. "Misalnya, dulu untungnya Rp 50 ribu, kini menjadi Rp 40 ribu," kata Misdar.

Misdar melakukan hal itu karena tak ingin dikomplain pelanggannya di Pasar Baru Bekasi. Ia mengatakan, setiap hari memproduksi tempe dengan bahan baku kedelai hingga 85 kilogram. "Kami tetap memproduksi seperti biasa, tidak mengurangi," ujar Misdar. Harga kedelai yang masih impor sangat terpengaruh dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tempo.co

SHARE:
beritaTerkait
Wabup Yuliantini Tegaskan Komitmen Bersama Perkuat Langkah Percepatan Penurunan Stunting
Hotspot Riau Turun Jadi 79 Titik, Kapolda: Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Setelah Sita Uang Rp1,5 M, KPK Susun Strategi Ungkap Kasus 'Sunat' Upah Pungut di Kabupaten Bogor
Kapolda riau konfrensi pers tindak Pidana lingkungan hidup penggerusakan 133 ha hutan mangrove di kab. Rohil
Perkuat pelayanan ASN, Wakil Bupati Inhil terima kunjungan PT Taspen Pekanbaru
Antisipasi Dampak Asap Karhutla, Polda Riau Bagikan 2.500 Masker kepada Warga Pekanbaru
komentar
beritaTerbaru