Memamerkan sesuatu yang kita miliki dengan tujuan dipuji
atau mendapatkan penghargaan lebih dari orang lain adalah salah satu
bentuk Riya. Pamer dalam Islam tentu dilarang walaupun manusia terkadang
khilaf dan suka melakukannya. Untuk itu, perlu diketahui terlebih
dahulu seperti apakah riya dan bagaimana jika dilakukan di dalam islam.
Apakah riya sesuai dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.
Pengertian dan Unsur Riya (Pamer)
Perbuatan pamer tentunya memiliki motif yang berbeda-beda. pamer
sendiri memiliki dosa yang beratnya tidak sama masing-masingnya. Berikut
adalah tujuan daripada berbuat riya biasanya adalah:
- Tidak ada tujuan untuk mencari pahala, hanya untuk mencari pengakuan orang lain (misalnya : shalat saat ada yang melihat).
- Tujuan mencari pahala yang sangat lemah, mencari pahala tapi hanya sedikit.
- Tujuan mencari pahala sekaligus riya (berimbang).
- Tujuan ibadah yaitu, penglihatan orang yang yang menjadi penguat dan
pendorong mengerjakan amalan. Ada atau tidaknya orang tidak akan
berpengaruh terhadap amalan yang dilakukannya.
Point ke empat adalah tentu suatu perilaku yang diharapkan ada pada
umat islam. Tidak ada jaminan seseorang beribadah tanpa riya kecuali
dirinya dan Allah sendiri yang menilai dan Maha Mengetahui. Untuk itu,
maka penting kiranya sebelum melakukan ibadah kita mengecek terlebih
dahulu niat yang ada dalam diri kita
Baca Juga:
Selain tujuan tersebut, ada juga pamer dengan berbagai tujuan yang berbeda-beda. Diantaranya adalah:
- Tujuan Untuk Bisa Berbuat Maksiat
Pamer seperti ini adalah riya yang bertujuan agar kita bisa berbuat
maksiat. Misalnya saja adalah menghadiri suatu acara majelis ilmu demi
untuk dapat maksiat mata yaitu melihat gadis-gadis cantik. Atau misalnya
lagi menampakkan suatu kebaikan atau kesalihan demi disasksikan orang
banyak dan mendapatkan kedudukan tertentu. Melakukan kebaikan agar tidak
dibilang zhalim atau berdosa oleh orang-orang yang melihat. Misalnya
korupsi, namun menampakkan suka sedekah.
Baca Juga:
Tentu saja untuk bisa menilai seperti ini, hanya Allah yang Maha
Mengetahui dan Maha Menilai. Tujuan seperti ini tidak akan bisa
dideteksi secara sempurna oleh manusia pada orang lain. Tentu orang
tersebut, malaikat, dan juga Allah yang Maha Mengetahui segala-galanya.
- Tujuan Untuk Mendapatkan Bagian Dunia yang Diperbolehkan
Pamer dengan tujuan seperti ini adalah riya yang berorientasi agar
mereka mendapatkan keuntungan atau kebahagiaan tertentu dari kehidupan
dunia. Misalnya saja mendapatkan harta, wanita, atau kedudukan dari
perilaku riya tersebut. Mereka menjalankan amalan kebaikan bukan karena
memang tulus untuk menjalankan perintah Allah, melainkan untuk
mendapatkan sesuatu untuk kehidupan dirinya yang mengaburkan
amalan-amalan shalihnya.
- Tujuan Untuk Bisa Dipandangan oleh Orang Khusus
Pamer seperti ini adalah riya yang bertujuan untuk mendapatkan
penghargaan, pandangan, dan juga kekhususan dari orang lain. Tentu saja
untuk tujuan seperti ini tidak diperbolehkan dan juga tidak dikehendaki
oleh Allah. Maka itu jauhkan dari hal terseb
Bahaya Berperilaku Riya (Pamer)
Perilaku riya bukan tidak mendatangkan pada mudharat. Perilaku ini tentu saja bertentangan dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam.
Tentu saja ada bahaya-bahaya yang terjadi jika perilaku riya ini
dilakukan oleh kita,khususnya sebagai seorang muslim. Berikut adalah
bahaya riya, jika dilakukan.
- Membatalkan Amalan
"Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak Memberi Petunjuk kepada orang-orang yang
kafir." (QS Al Baqarah :264)
Dengan berbuat riya, hal ini akan membatalkan amalan kita atau
menghilangkan amalan-amalan kebaikan kita. Hal ini dikarenakan niat kita
bukan dilakukan karena keikhlasan pada Allah, melainkan untuk
mendapatkan pujian, menyakiti hati orang lain, atau bahkan membuatnya
menjadi sesuatu yang dibangga-banggakan. Tentu saja, hal ini harus
dijauhi agar amalan kita tetap terjaga keikhlasannya dan pahalanya tidak
menguap begitu saja.
Untuk berbuat baik dan melakukan hal kebaikan memang tidaklah mudah. Ada tantangan dan hambatan yang harus dilalui.
- Mendatangkan Murka Allah
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. (QS Lukman : 18)
Bagi mereka yang riya, tentunya mereka sebagaimana orang-orang yang
sombong dan angkuh. Tentu Allah murka dan tidak menyukai orang-orang
tersebut. Jangan sampai kita kehilangan Rahmat dan Kecintaan dari Allah
hanya karena kita tidak benar-benar tulus dan ikhlas untuk menjalankan
perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Karena, tanpa Rahmat dari Allah
tentunya manusia akan kehilangan nikmat yang banyak.
- Orang yang Celaka
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan
enggan (menolong dengan) barang berguna." (QS. Al-Maa'uun :4-7)
Di surat Al-Mauun dijelaskan bahwa ada orang-orang yang celaka yaitu
karena mereka lalai dan riya terhadap shalatnya. Mereka shalat dan
melakukan ibadah hanya karena ada orang lain yang melihatnya. Tentu
celakalah orang-orang seperti orang tersebut
Cara Menghindari Riya Menurut Islam
Agar kita terhindar dan terjauh dari bahaya riya, maka berikut adalah
hal-hal yang harus kita lakukan. Jangan sampai ibadah kita rusak,
amalan kita musnah, dan pahala kita hancur gara-gara kita riya dalam
berbuat amalan.
- Bermujahadah atau Bersungguh-Sungguh dalam Ibadah
Setiap kali ibadah kita akan dihadiri oleh rasa riya, maka segera
jauhkan keinginan tersebut dan hadirkanlah motivasi keakhiratan,
ketauhidan, agar keinginan tersebut tidak hadir dalam ibadah kita.
Jangan sampai riya tersebut hadir saat sebelum, saat ibadah, atau
setelahnya. Jauhilah rasa tersebut agar tidak sampai pada kemurkaan
Allah.
- Menghilangkan Penyebab Riya
Menghilangkan akar penyebab riya diantaranya adalah menjauhi segala
sanjungan. Kita serahkan dan kembalikan sanjungan tersebut kepada Allah
SWT. Jangan biarkan sanjungan tersebut membuat kita sombong dan
memamerkannya kepada orang lain. Jangan sampai tertipu dengan sanjungan
karena hal itu bisa membakar pahala kita.
- Memahami Tujuan Hidup
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz Dzariyat : 56)
Allah sudah menetapkan kita hidup di dunia adalah untuk menyembah dan
beribadah kepada Allah. Menjadikan Allah sebagia tempat bergantung dan
hanya Allah yang paling berkuasa atas diri manusia. Untuk itu, tidak
mungkin kita menyombongkan diri dan melakukan riya karena hal tersebut
bertentangan dengan tujuan hidup kita. Tentu fungsi agama , menginginkan manusia sukses di Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.
- Memahami Nilai Dunia
Mengingat kembali bahwa dunia ini adalah sementara, maka kebahagiaan
kita yang sejati adalah di akhirat. Tentu tidak berguna jika kita
mengharapkan pujian, pujaan, dan kebangaan dari orang lain. Sejatinya
manusia adalah makhluk lemah, dan tempat kembali kita adalah di akhirat.
Maka pikirkanlah ibadah kita untuk akhirat
Sifat pamer sangatlah tidak disukai oleh Allah SWT. Begitu pula
dengan Rasulullah SAW yang amat sangat tidak menganjurkan umatnya untuk
tetap bersikap rendah hati terhadap semua makhluk. Sehingga tidak ada
timbul perselisihan dan rasa iri yang menyebabkan renggangnya
silaturahmi antar umat Rasullullah SAW.