Catatan Redaksi
Pesisirnews.com - Hari ini, Selasa 22 Desember 2020, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu yang ke-92 tahun sejak awal diperingati pada tahun 1938.
Hari Ibu pada tahun ini diperingati dalam suasana penuh keprihatinan di mana seluruh dunia masih mengalami bencana kesehatan global karena pandemi Covid-19.
Baca Juga:
Dalam catatan sejarah, dunia sudah beberapa kali mengalami bencana kesehatan global karena pandemi. Salah satu di antara pandemi yang terjadi di masa lalu adalah flu Spanyol, di mana pandemi yang tejadi pada 1918-1920 ini diperkirakan telah membunuh lebih dari 50 juta jiwa di seluruh dunia, dan menjadikannya salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia.
Seabad kemudian, tepatnya di pengujung bulan Desember 2019, masyarakat dunia kembali mengalami bencana kesehatan global berupa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga kini.
Baca Juga:
Korbannya pun tak tanggung-tanggung. Menurut data dari worldometers, ada lebih dari 77 juta orang diseluruh dunia terinveksi virus corona dengan total angka kematian lebih dari 1,7 juta jiwa.
Namun sepertinya pengalaman dari masa lalu itu belum cukup membuat masyarakat dunia bersiap terhadap serangan wabah penyakit menular yang kemungkinan bisa terulang kembali.
Ketidaksiapan menghadapi pandemi ini tidak hanya berlaku di negara-negara ekonomi lemah atau berkembang, di negara-negara maju pun banyak yang mengalami kepanikan ketika pandemi Covid-19 melanda negaranya.
[br]
Tantangan Ibu-ibu Indonesia di Tengah Situasi Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 berdampak negatif pada banyak sendi kehidupan manusia seperti terganggunya perekonomian, meningkatnya angka pengangguran, dll. Dunia pendidikan pun ikut terdampak dengan adanya pandemi Covid-19.
Pola pendidikan konvensional berupa pembelajaran tatap muka yang umum berlaku di banyak negara, lantas berubah menjadi pola home schooling (belajar dari rumah).
Nah, disini timbul persoalan baru karena pola home schooling tidak begitu familiar diterapkan di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia yang selama ini menerapkan pola pendidikan dengan sistem tatap muka dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Salah satu kendala yang dihadapi negara kita dengan sistem belajar mengajar melalui home schooling adalah ketidaksiapan guru dan siswa karena home schooling menuntut penggunaan perangkat teknologi berbasis internet yang mungkin tidak semua dapat dijangkau dan dikuasai oleh sebagian guru dan siswa.
Meski dunia saat ini berada di zaman yang sering disebut sebagai era internet, tetapi harus diakui bahwa tidak semua kalangan masyarakat kita menguasainya, atau mampu membeli perangkat pendukungnya seperti laptop dan handphone (hp) dengan akses internet.
Belum lagi diperlukan biaya tambahan untuk membeli paket data agar perangkat yang digunakan bisa terhubung ke jaringan internet.
Adanya pandemi Covid-19 menunjukkan kepada kita bahwa peran ibu secara tradisional yang selama ini dianggap hanya berada di seputar “dapur, sumur dan kasur†sudah seharusnya bergeser ke paradigma yang lebih luas, diantaranya para ibu diharapkan untuk mampu memperkuat pendidikan anak-anaknya secara lebih mandiri di lingkungan rumah.
Meski peran kedua orangtua idealnya harus seimbang dalam memperhatikan persoalan pendidikan yang dihadapi putra-putri mereka, tetapi dalam kultur sebagian masyarakat kita, peran ibu masih dianggap lebih mendominasi terhadap perkembangan anak-anaknya ketimbang peran ayah yang lebih fokus kepada urusan mencari nafkah untuk keluarga.
Untuk memperkuat peran ibu dalam mendukung pendidikan anak-anak di rumah, maka tentu ibu-ibu harus memiliki pendidikan yang baik pula.
[br]
Pentingnya Peningkatkan Pendidikan bagi Ibu-ibu di Indonesia
Sebuah studi oleh Universitas New York menemukan bahwa ibu yang berpendidikan lebih dapat membantu anak-anak mereka sukses di sekolah, tidak hanya dengan memperluas pengetahuan akademis mereka, tetapi dengan mencontohkan perilaku dan membuat hubungan sosial yang mengarah pada kesuksesan pendidikan.
Para ibu yang setidaknya telah bersekolah di sekolah menengah atas, memiliki lebih banyak pemahaman tentang struktur sekolah, dan dengan demikian lebih siap untuk menjadi teladan dengan mengajarkan cara berinteraksi yang bernilai sosial, seperti berbicara dengan sopan tetapi tegas.
Selain itu, ibu-ibu yang berpendidikan juga cenderung mengekspos anak pada kegiatan yang dihargai seperti kesenian, musik dan pengajaran pada nilai-nilai tradisi budaya dan agama.
Berkenaan dengan Hari Ibu 2020, ada sebuah perkataan dari Napolean Bonaparte, yang cukup bagus untuk kita perhatikan: "Beri aku ibu yang berpendidikan, aku akan menjanjikanmu lahirnya bangsa yang beradab dan terpelajarâ€.
Kalimat dari Kaisar dan pemimpin militer Prancis yang terkenal dari abad ke-18 itu mungkin bisa menjadi motivasi, khususnya bagi pemerintah dalam memperkuat peran ibu Indonesia melalui peningkatan pendidikan, sehingga mereka mampu membangun generasi penerus bangsa yang kuat, mandiri, cerdas, berbudi pekerti dan berkelanjutan.
Berbagai studi akademik telah banyak mengungkap bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi cenderung lebih sehat, lebih berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja formal, berpenghasilan lebih tinggi, menikah di usia yang relatif lebih matang, memiliki kesadaran tentang pembatasan jumlah keturunan yang memungkinkan mereka merawat kesehatan dan memberikan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya hingga dewasa.
Pendidikan dan pengetahuan seorang ibu juga berpengaruh pada status ekonomi dan kesuksesannya sendiri, serta berdampak pada masa depan generasi yang dibesarkannya.
Ketika para ibu dihadapkan dengan berbagai situasi pelik akibat bencana maka kecakapan intelektualitas yang dimiliki seorang ibu akan lebih mampu menentramkan anak dan menemukan problem solving atas setiap persoalan yang terjadi.
Ibu-ibu yang berpendidikan juga akan lebih mampu membantu dalam mengedukasi anak-anaknya tanpa bergantung pada internet dan sarana teknologi pendukung lainnya,
Pada momentum Hari Ibu tahun ini, mari kita dorong pemerintah agar lebih memperhatikan pentingnya peningkatan pendidikan bagi para ibu Indonesia karena ibu beperan langsung dalam menempa generasi penerus bangsa.
Melalui ibu-ibu Indonesia yang berpendidikan, maka diharapkan mereka mampu menjadi mentor yang lebih baik bagi anak-anaknya sehingga dalam skala yang lebih luas dapat mengangkat martabat bangsa Indonesia keluar dari berbagai persoalan dan kemiskinan.(Ajr)