Kamis, 25 Juli 2024 WIB

Kewalahan Perangi Houthi di Yaman, Arab Saudi Kini Dukung Gencatan Senjata Komprehensif

- Senin, 27 Juni 2022 17:36 WIB
701 view
Kewalahan Perangi Houthi di Yaman, Arab Saudi Kini Dukung Gencatan Senjata Komprehensif
Dubes Arab Saudi berdiskusi dengan utusan nasional untuk Yaman, membahas gencatan senjata yang lebih komprehensif. (Yemen Monitor)

SANA’A (Pesisisirnews.com) - Arab Saudi kembali membuka dialog gencatan senjata dalam upaya bersama untuk mencapai solusi politik yang lebih komprehensif terhadap krisis politik dan perang saudara yang terjadi di Yaman.

Hal ini datang selama diskusi di Riyadh, Ibu Kota Kerajaan Arab Saudi, antara Duta Besar Saudi untuk Yaman Mohammed al-Jaber dan utusan nasional yang mewakili Yaman, Hans Grundberg, sebagaimana pernyataan yang disampaikan Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi di Yaman pada Minggu, yang dilansir dari Yemen Monitor, Senin (27/6).

“Selama rapat, Dubes Saudi menegaskan dukungan Kerajaan terhadap upaya PBB di Yaman dan membahas upaya bersama untuk mencapai solusi politik yang komprehensif terhadap krisis,” ungkap pernyataan itu.

Baca Juga:

Pertemuan tersebut juga membahas upaya untuk menyukseskan gencatan senjata yang disponsori PBB, yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata permanen dan komprehensif di Yaman, dan memulai proses politik antara pemerintah dan Houthi.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa “Pentingnya komitmen Houthi terhadap artikel-artikel gencatan senjata saat ini dan kecepatan pembukaan penyimpangan di Gubernur Taiz (barat daya) untuk mengurangi penderitaan kemanusiaan di sana, dan untuk menyetorkan pendapatan di Bank Sentral Yaman untuk membayar gaji warga sipil.”

Baca Juga:

Pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi, pada awal Juni, setuju untuk memperpanjang gencatan senjata kemanusiaan di Yaman selama dua bulan lagi, setelah penghentian yang sama sebelumnya yang dimulai pada 2 April.

[br]

Awal perang saudara dan konflik sektarian

Sebagai informasi, kelompok Hutsi (sering ditulis Houthi), secara resmi bernama Anshar Allah, adalah gerakan Islam politik-bersenjata yang muncul dari Sa'dah di Yaman utara pada 1990-an.

Mereka berasal dari sekte Syiah Zaidiyah. Gerakan ini kabarnya juga didukung oleh sebagian kelompok Sunni yang ikut menentang rezim yang dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh saat itu.

Di bawah kepemimpinan Husain Badruddin al-Hutsi, kelompok ini muncul sebagai oposisi Zaidi terhadap mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, yang mereka tuduh melakukan korupsi keuangan besar-besaran dan dikritik karena menjadi ‘negara boneka’ dari Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Pada 2014-2015, Houthi mengambil alih pemerintahan di Sana'a yang justru dibantu oleh mantan presiden Ali Abdullah Saleh, yang sebelumnya mereka gulingkan, dan mengumumkan jatuhnya pemerintahan Abd Rabbuh Mansur Hadi saat itu.

Setelah itu, Houthi berhasil menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman dan sejak 2015 telah menentang intervensi militer yang dipimpin Saudi di Yaman.

Arab Saudi mengklaim intervensi militernya untuk mengembalikan pemerintah Yaman yang sebelumnya dipimpin oleh kelompok Sunni, yang dikatakan diakui secara internasional supaya kembali ke tampuk kekuasaan yang sah.

Konflik di Yaman semakin berdarah-darah setelah kelompok militan Negara Islam di negara itu menyerang semua kelompok besar yang terlibat konflik di Yaman, termasuk Houthi, pasukan Saleh, pemerintah Yaman, dan pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

[br]

Gencatan senjata dan kewalahan Saudi menghadapi Houthi

Adapun sorotan gencatan senjata yang dibahas Arab Saudi, diantaranya meminta agar memulai kembali penerbangan komersial melalui bandara Sanaa, dan pembukaan jalan di kota Taiz, yang telah dikepung oleh Houthi selama 7 tahun.

Upaya gencatan senjata yang disebut Saudi disponsori PBB, dinilai sebagian pengamat sebagai salah satu cara menyelamatkan "muka" Arab Saudi yang telah gagal atas intervensi militernya di Yaman.

Justru intervensi militer Saudi di Yaman banyak mendapat kecaman dari berbagai kalangan internasional karena dianggap makin memperburuk situasi dan menciptakan terjadinya krisis kemanusiaan, kelaparan, hingga banyak jatuhnya korban jiwa dari kalangan penduduk sipil.

Saudi juga terlihat sudah mulai kewalahan menghadapi perlawanan Houthi, yang bahkan berani menyerang balik ke wilayahnya dengan rudal dan drone.

Selain itu, Saudi telah mengeluarkan biaya operasi militer berjumlah jutaan dolar AS. Menurut laporan Reuters pada Maret 2015, di awal-awal intervensi, Arab Saudi mungkin menghabiskan sekitar $175 juta untuk satu bulan sebagai biaya operasi militernya di Yaman.

Namun sejauh ini biaya besar yang dikeluarkan Saudi untuk operasi militer di Yaman tidak membuahkan hasil selain konflik bersenjata yang terus berkecamuk di negara paling miskin di jazirah Arab itu. (PNC)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ubah Citra Ultra-Konservatif, Arab Saudi akan Kirim Astronot Wanita Pertama ke Luar Angkasa
Wajib Diketahui Calon Pekerja Migran Indonesia: Arab Saudi Berlakukan Tes sebelum Berikan Visa
Banjir Bandang Terjang Wilayah Selatan Arab Saudi, 4 Orang Anak Jadi Korban
Sukses Pulihkan Hubungan Iran-Arab Saudi, China Imbangi Pengaruh AS dalam Kancah Global
China Sukses Jembatani Pemulihan Hubungan Bilateral antara Iran dan Arab Saudi
Model Arab Saudi dan Palestina Tampil Memukau di Milan Fashion Week
komentar
beritaTerbaru