Kamis, 18 Juli 2024 WIB

Kisah Menarik Korps Marinir AS dari Unit Samoa yang Berperang Tanpa Alas Kaki di PD II

- Minggu, 22 Mei 2022 20:42 WIB
604 view
Kisah Menarik Korps Marinir AS dari Unit Samoa yang Berperang Tanpa Alas Kaki di PD II
Korps Marinir AS dari Unit Samoa pada Perang Dunia II. (Museum Nasional Korps Marinir AS)

(Pesisirnews.com) - Kepulauan Samoa yang merupakan bagian dari wilayah negara Amerika Serikat (AS), ternyata menyimpan kisah perjuangan tersendiri dari penduduknya yang tak kalah menarik dari berbagai kisah heroik pasukan AS selama berlangsungnya Perang Dunia ke-2 (PD II).

Dilansir dari laman marinecorpstimes.com, Minggu (22/5), selama Perang Dunia II, Kepulauan Samoa menjadi bagian penting untuk menjaga komunikasi antara Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.

Marinir ke-7 AS diperintahkan untuk membentengi garnisun di Tutuila, yang menjadi basis pangkalan militer ringan AS di Kepulauan Samoa.

Baca Juga:

Meskipun Angkatan Laut AS ditugaskan untuk menahan serangan musuh, tetapi tentara Amerika tidak melakukan tugas itu sendirian.

Mereka dibantu oleh unit cadangan berkekuatan 500 orang yang merupakan penduduk asli Kepulauan Samoa.

Baca Juga:

Batalyon 1 Samoa yang dalam bahasa setempat disebut Pago Pago ini didirikan pada tahun1941, dan merupakan bagian dari pasukan cadangan Korps Marinir AS.

Unit ini berpatroli dan bertugas mempertahankan pantai Tutuila dari serangan musuh. Karena mereka tidak memakai sepatu, mereka mendapat julukan sebagai 'Marinir Berkaki Telanjang'.

Menurut catatan dari National Park Service, orang Samoa, yang merupakan warga negara Amerika ini bertugas untuk membantu pasukan ke-7 AS mempertahankan medan pegunungan dan hutan seluas 52 mil persegi di Tutuila.

[br]

Seragam Unit Samoa dengan lencana Korps Marinir AS. (Foto: Museum Nasional Korps Marinir AS)

Seragam mereka menampilkan sampul khaki seperti rok yang disebut "Lava-Lava" dengan lencana Korps Marinir yang dijahit di ujung bawah bersama dengan tanda pangkat. Marinir akan memasangkan ini dengan penutup khaki dan kemeja putih.

“Seragam Marinir ini sering dihargai karena sejarah dan kesederhanaannya yang halus. Tetapi, jika menyangkut seragam era Perang Dunia II, akan sulit untuk menemukan ansambel yang lebih sederhana atau lebih sederhana daripada yang ada di Batalyon Samoa ke-1,” ungkap Museum Nasional Korps Marinir AS.

Batalyon ini dihapuskan menjelang akhir perang, dan pada musim panas 1945, Pago Pago melanjutkan operasi masa damai seperti menjaga pelabuhan pengisian bahan bakar, perbaikan kapal, prakiraan cuaca, dan mengurus depot pasokan. (PNC)

Editor
:
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Pj Bupati Inhil Herman SE. MT., Meresmikan 2 Ruang Kelas MIS Nurul Huda, Desa Pulau Palas
Lima Unit Rumah Ludes Dilalap Sijago Merah Di Desa Pasanggrahan Inhil
Operasi Patuh Lancang Kuning 2024 Polres Inhil Dimulai
Laga Uji Coba Jelang ASEAN Cup U-19 2024 Malaysia Libas Calon Lawan Timnas U-19 Indonesia
Terpilih Jadi Pasukan Pengiibar Bendera Pusaka Nasional 2024 Dua Putra Putri Riau Ini Asal Sekolahnya
Laka Lantas Tembilahan Hulu Antara Travel Vs Sepeda Motor
komentar
beritaTerbaru